Tuti Indra Malaon

Seniwati panggung dan bintang film yang menonjol. Aktingnya merupakan sumbangan tersendiri bagi panggung sinema Indonesia, karena melengkapi kariernya dengan i1mu dan wawasan. Ia tokoh masyarakat yangnyaris lengkap dengan kariernya sebagai dosen Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan sebagai anggota MPR-RI. Tuti dilahirkan di Jakarta pada tahun 1939, dengan nama kecilnya Pudjiastuti. Ia anak ke-6 dari sepuluh bersaudara. Ayahnya seorang republikan sejati, sehingga kerap kali harus memboyong keluarganya ke berbagai kota, termasuk Yogyakarta (1946).

Perhatian dan minat Tuti yang besar pada seni tari mulai tampak pada tahun 1942. Kala itu ia selalu terpesona menyaksikan orang berlatih menabuh perangkat gamelan dan menari di rumah kenalan orang tuanya. Minat dan bakatnya terus tumbuh walaupun kedua orang tuanya serta saudara kandungnya tidak ada yang tertarik pada bidang seni apapun. Kesempatan besar untuk menari di Istana Negara dan di hadapan Presiden Soekarno beserta pejabat tinggi RI lain tidak disia-siakan. Sejak itu ia kerap diminta untuk menari di Istana Negara. Kegemarannyamenari berkembang menjadi karier setelah ia menjadi anggota Ikatan Seni Tari Indonesia. Namanya kian dikenal orang.

Pada tahun 1959 ia kuliah di jurusan Bahasa Inggris FSUI, sekaligus bekerja di sebuah kantor asuransi. Saat itulah ia terpilih menjadi salah satu penari yang akan dikirim pemerintah Indonesia menjadi duta bangsa ke berbagai negara, antara lain RRC, Jepang dan Uni Soviet. Tutijuga sangat tertarik pada seni drama atau teater modern. Minat serta kegemarannya berteater berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan teater di fakultasnya. Pada tahun 1965 ia lulus dari FSUI, setelah menjadi Nyonya Indra Malaon. Tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi dosen Fakultas Sastra UI. Ia mendalami black theatre di Amerika Serikat, lalu mendapat kepercayaan mengajar mata kuliah drama absurd Amerika di FSUI.

Wajah Seorang Lelaki (1971) merupakan film pertama yang dibintanginya. Meskipun hanya membintangi sedikit judul film, namun Tuti sempat meraih dua Piala Citra untuk film Ibunda (FFI 1986) dan Pacar Ketinggalan Kereta (FFI 1989). Kedua film tersebut disutradarai Teguh Karya. Tuti kemudian menjadi wanita karier yang sangat sibuk karena juga menjadi wartawan majalah Matra dan mengelola usaha jasa public relations PEN di rumahnya. Melalui PEN ini ia mencari sponsor untuk membangun kandang harimau putih di Kebun Binatang Ragunan Jakarta.