Tugu, Prasasti

Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang diperkirakan dibuat pada abad kelima Masehi, ditemukan di Kampung Batu Tumbuh, dijadikan sebutan bagi kawasan tersebut. Prasasti tersebut memberitakan tentang dibuatnya saluran air sepanjang 6122 busur, atau kurang dari 11 kilometer, dalam waktu 21 hari. Hal ini membuktikan bahwa 16 abad yang lalu pun saluran air di pantai utara kawasan Jakarta dan sekitarnya sudah diperlukan, untuk mengatur pengairan, baik untuk penanggulangan banjir atau pun untuk pertaillan.

Tugu mulai disebut-sebut pada tahun 1661, yaitu tahun ditempatkannya 23 orang Kristen asal Benggala dan Koromandel Lima belas tahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 40 atau 50 keluarga dan ditempatkan seorang guru di sana. Setengah abad kemudian, 1735, dibangunlah sebuah gereja dari tembok, yang pada tahun 1740 dibakar oleh orang-orang Cina yang memberontak. Pada tahun 1744 dibangun lagi gereja baru atas biaya seorang pejabat VOC, Justinus Vinck Prasastinya sendiri, yang berbentuk bulat hampir menyerupai kerucut, sehingga baris-baris hurufnya dituliskan melingkar, sebanyak 5 baris berhuruf Palawa, dewasa ini disimpan di Museum Nasional. Replikanya dapat disaksikan di Museum Sejarah Jakarta, di Taman Fatahillah.

Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara
yang diperkirakan dibuat pada abad kelima
Masehi, ditemukan di Kampung Batu
Tumbuh, dijadikan sebutan bagi kawasan
tersebut. Prasasti tersebut memberitakan
tentang dibuatnya saluran air sepanjang 6122
busur, atau kurang dari 11 kilometer, dalam
waktu 21 hari. Hal iill membuktikan bahwa 16
abad yang lalu pun saluran air di pantai utara
kawasan Jakarta dan sekitarnya sudah diperlukan,
untuk mengatur pengairan, baik untuk
penanggulangan banjir atau pun untuk pertaillan.
Tugu mulai disebut-sebut pada tahun
1661, yaitu tahun ditempatkannya 23 orang
Kristen asal Benggala dan Koromande1. Lima
belas tahun kemudian, jumlahnya meningkat
menjadi 40 atau 50 keluarga dan ditempatkan
seorang guru di sana. Setengah abad kemudian,
1735, dibangunlah sebuah gereja dari
tembok, yang pada tahun 1740 dibakar oleh
orang-orang Cina yang memberontak. Pada
tahun 1744 dibangun lagi gereja baru atas
biaya seorang pejabat VOC, Justinus Vinek.
Prasastinya sendiri, yang berbentuk bulat
hampir menyerupai kerueut, sehingga barisbaris
hurufnya dituliskan melingkar, sebanyak
5 baris berhuruf Palawa, dewasa ini disimpan
di Museum Nasional. Replikanya dapat
disaksikan di Museum Sejarah Jakarta, di .
Taman Fatahillah.Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara
yang diperkirakan dibuat pada abad kelima
Masehi, ditemukan di Kampung Batu
Tumbuh, dijadikan sebutan bagi kawasan
tersebut. Prasasti tersebut memberitakan
tentang dibuatnya saluran air sepanjang 6122
busur, atau kurang dari 11 kilometer, dalam
waktu 21 hari. Hal iill membuktikan bahwa 16
abad yang lalu pun saluran air di pantai utara
kawasan Jakarta dan sekitarnya sudah diperlukan,
untuk mengatur pengairan, baik untuk
penanggulangan banjir atau pun untuk pertaillan.
Tugu mulai disebut-sebut pada tahun
1661, yaitu tahun ditempatkannya 23 orang
Kristen asal Benggala dan Koromande1. Lima
belas tahun kemudian, jumlahnya meningkat
menjadi 40 atau 50 keluarga dan ditempatkan
seorang guru di sana. Setengah abad kemudian,
1735, dibangunlah sebuah gereja dari
tembok, yang pada tahun 1740 dibakar oleh
orang-orang Cina yang memberontak. Pada
tahun 1744 dibangun lagi gereja baru atas
biaya seorang pejabat VOC, Justinus Vinek.
Prasastinya sendiri, yang berbentuk bulat
hampir menyerupai kerueut, sehingga barisbaris
hurufnya dituliskan melingkar, sebanyak
5 baris berhuruf Palawa, dewasa ini disimpan
di Museum Nasional. Replikanya dapat
disaksikan di Museum Sejarah Jakarta, di .
Taman Fatahillah.