Tsieuw

Sebutan arak dalam istilah orang Cina. Sejak tahun 1611 telah terdapat tempat penyulingan arak milik Cina di Jakarta. Tahun 1778 sudah ada sekitar dua puluhan yang semuanya dikuasai oleh orang Cina. Arak atau tsieuw ini salah satu temuan mereka. Hanya mereka yang dapat menyuling temuan ini, di dalam bangunan yang khusus dan tukang rebusnya hanya dapat dijabat oleh orang Cina. Minuman keras tersebut sangat jernih dan berkadar alkohol tinggi, memiliki kekhasan karena dibuat dari tiga macam bahan utama: beras yang difermentasi, tetes tebu dan toak yang dibuat dari nira (vocht van den kalappaboom), serta rasanya halus.

Sebuah penyulingan yang baik rata-rata memasok 18 pikul (sekitar 900 liter) arak per hari. Dahulu di Batavia terdapat beberapa macam arak, yaitu: 1) arak biasa (arak api atau ke-si) dengan kadar alkohol mencapai 60% untuk pasar lokal; 2) arak api kepala, merupakan arak biasa yang disuling kembali agar memperoleh minuman keras bermutu tinggi yang mengandung 60 % alkohol (arak api kepala atau kedji), hanya dijual kepada Kompeni untuk kemudian diekspor ke Belanda; 3) Toeij-sio Tsieuw, merupakan hasil campuran dengan air sehingga kandungan alkoholnya menurun hingga tinggal 50%.

Pada sebuah perusahaan arak, umumnya terdapat tukang suling, sekitar sepuluh karyawan pembantu tukang rebus, sekretaris dengan tugas sebagai akuntan, empat buruh Cina, serta empat budak bertugas membantu dan melakukan pekerjaan kasar. Industri arak merupakan usaha yang tidak dapat dikendalikan, sehingga Gubernur selalu berusaha untuk memanfaatkannya, misal dengan menaikkan pajak, membatasi produksi, dsb. Meskipun demikian industri tersebut telah mampu memberi pekerjaan tetap kepada buruh, pembuat tembikar, tukang kayu, tukang angkut, pembuat tetes tebu, tuak, dan ragi.