Trubus Sudarsono

Pelukis, lahir di Wates, Yogyakarta, 23 April 1926. Dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin yang tidak mampu menyediakan pendidikan lebih tinggi dari SD. Salah satu dari rangsangan awalnya pada karir seni lukis adalah kecintaannya ketika kecil pada boneka-boneka wayang kulit yang ia pahat serta beri warna. Sebagai seorang muda ia bekerja untuk suatu waktu memberi warna pembesaran fotografis bagi sebuah Studio di Solo. Pada usia belasan, ia pergi ke Jakarta dan bekerja sebagai pembantu pelukis Sudarso. Ia bekerja sebagian dari waktunya serta belajar melukis pada jam-jam bebasnya. Ia juga belajar pada Sudjojono dan Affandi selama pendudukan Jepang. Ia kembali ke Jawa Tengah pada awal revolusi, dan bergabung dengan SIM. Ia meninggalkan SIM pada 1947 ketika Pelukis Rakyat didirikan dimana ia bekerja selama revolusi dengan memproduksi poster-poster politik anti-Belanda, dan pada 1948 ketika berusaha melarikan diri ke luar negeri, ia dipenjara oleh Belanda karena aktivitas-aktivitas revolusionernya.

Tahun 1950 setelah penyerahan kedaulatan, ASRI didirikan, ia diangkat untuk mengajar. Pada 1954 ia diundang berkunjung ke Czechoslovakia, sebuah perjalanan yang kemudian ia gambarkan pada Februari 1955 pada isu Budaya, dengan mengkritik kehidupan seni negeri itu. Ia juga membuat patung-patung atas dorongan Hendra. Karyanya antara lain patung dada Jenderal Sudirman berdiri di depan Museum Korps Polisi Militer di Jakarta. Rumahnya di Pakem debt Yogyakarta, yang menghadap gunung berapi Merapi memberi banyak inspirasi lukisan-lukisan pemandangan alamnya. Beberapa karyanya yang terbaik adalah potret-potret wanita; beberapa lukisan-lukisannya berada dalam koleksi Presiden Sukarno. Ia menikah dan mempunyai empat orang anak, secara esensial adalah pelukis otodidak. Ia mendapatkan reputasi yang bagus sebagai seorang guru dan masih mengembangkannya sebagai seorang seniman kreatif, sebelum meninggal selama pembersihan setelah coup Oktober 1965.