Trem Kuda

Trem yang beroperasi di Jakarta sebelum trem uap Betawi. Alat angkutan ini sudah ada sejak tahun 1869, merupakan kereta yang bentuknya memanjang ke belakang, berjalan di atas rel dan ditarik oleh tiga atau empat ekor kuda. Untuk klaksonnya si kusir meniupkan sebuah terompet. Trem kuda berangkat dari pangkalan di Kota Intan, memiliki stasiun di Harmoni, kemudian bercabang dua: satu menuju Tanah Abang sedang yang lainnya menuju Jatinegara melalui Pintu Air, Pasar Baru, Lapangan Banteng, Pasar Senen, Kramat dan berakhir di pangkalan Jatinegara.

Adapun rel dari trem kuda ini merupakan celah besi yang dapat dimasuki oleh roda. Kereta ini dapat memuat sampai 40 orang. Kereta panjang yang berjalan di atas rel, ditarik tiga sampai empat ekor kuda dengan terompet sebagai pengganti klakson. Tarif atau ongkos naik trem kuda dari Kota Intan ke Kramat adalah 10 sen. Tarif yang sama juga dikenakan untuk trayek Kramat-Jatinegara. Begitu juga di Kota Intan ke Tanah Abang lewat Harmoni. Tiap penumpang diberi karcis yang distempel dengan nomer. Kondektur akan memerintahkan kusir berhenti jika ada loneeng berbunyi, sebagai tanda ada penumpang yang naik atau turun. Setiap lima menit sekali lewat satu trem, dimulai pukul 05.00 sampai 20.00. Biasanya trem kuda itu hanya berhenti di stasiun tertentu saja, kecuali jika ada penumpang yang naik atau turun di tengah perjalanan. Kuda sebagai penarik trem umumnya didatangkan dari Sumba, Timor, Sumbawa, Tapanuli (kuda Batak), Priangan, dan Makasar.

Dalam Java Bode, 15 Desember 1860 diberitakan penggunaan trem yang ditarik kuda sebagai ide dari Mr. J. Babut du Mares. Namun pelaksanaan pembangunan jalur trem diberikan kepada Dumler & Co. (Java Bode, 10 Agustus 1867). Trem yang ditarik dengan kuda mulai beroperasi pada 20 April 1869. Pada Juni 1869, jalur tambahan dibangun oleh Perusahaan Trem Uap Batavia. Dari Gedung Harmonie ke Tanah Abang dan dari Harmonie sepanjang Rijswijk melalui Kramat dan berakhir di Meester Cornelis (Jatinegara).

Operasional trem yang ditarik kuda banyak menghadapi kendala antara lain tingginya pajak kuda, 545 kuda mati (1872), kuda harus dibantu kerbau di jalan yang menanjak (Java Bode, 20 November 1869), manajemen keuangan trem jelek, bahkan banyak orang Eropa menganggap penggunaan trem telah merendahkan martabatnya. Maret 1870, jalur dari Harmonie ke Tanah Abang ditutup.

Karena trem uap mulai beroperasi maka trem kuda menjadi kurang peminat sehingga menyebabkan kerugian. Pada tanggal 1 November 1886 seluruh pengelolaannya diserahkan kepada pribumi. Orang ini bertanggungjawab atas segala laba dan rugi yang dihasilkan oleh trem kuda. Karena pengelolaan dan keadaan sarana angkutan ini rupanya sudah sangat parah, tanggal 6 Januari 1887 ia menghilang dan berakhir sudah riwayat trem kuda yang sudah ada sejak 1869.