Treg-treg Jing, Permainan

Permainan rakyat dari Jakarta yang masih bertahan sampai tahun 1975. Asal mula permainan menurut orang-orang tua berawal dari keisengan anak-anak menirukan suara bakiak, sandal dari kayu yang terdengar lucu karena banyak orang yang memakainya. Permainan ini didukung oleh anak-anak yang berumur 7-13 tahun dan terbagi dalam dua kelompok yang beranggota 4 anak. Kalau terlalu banyak agak sulit untuk mengatur formasi letak kaki.

Permainan diawali dengan berpegangan tangan membentuk lingkaran yang cukup lebar. Setelah itu mereka akan mengayun-ayunkan tangannya ke depan dan ke belakang sambil bernyanyi, "kedecang kedecong, adu pending, coblong" berulang-ulang. Setelah lagu selesai, para pemain memutar tubuhnya saling membelakangi, tetapi masih berpegangan tangan. Dengan posisi demikian, dua anak akan menyediakan lengannya sebagai tempat menggantungkan kaki. Sedang pemain-pemain lain memasukkan salah satu kakinya sampai batas lutut di antara celah-celah, sehingga akan tampak seperti tali temali. Kaki lainnya akan berdiri menahan tubuh. Kalau sudah terbentuk maka seluruh pemain akan melepaskan tangannya dari gandengan dan mulai melompat-lompat kecil sambil bertepuk tangan, serta bernyanyi "treg-treg jing, treg-treg jing, treg-treg jing". Mereka terus menyanyikan lagu tersebut sampai salah satu kaki anggota kelompoknya terlepas dari rangkaian yang dibentuk tadi. Jika satu kaki sudah terlepas maka formasi yang terbentuk akan terlepas semua. Dalam perkembangannya permainan trek-trek jing telah mengalami perubahan nama menjadi "Keripik Jengkol".