Torti, Permainan

Permainan rakyat dari Jakarta yang hampir sama dengan petak umpet atau tap inglo. Nama torti berasal dari bunyi pemukul pelepah pisang yang dipukulkan ke arah kaki lawan, "kort" dan mendapat akhiran "i". Permainan yang sudah ada sejak tahun 1941 ini dilakukan secara berkelompok dengan jumlah anggota harus ganjil (3, 5, 9, dst). Arena permainan harus luas dan banyak semak-semak untuk tempat bersembunyi. Peralatan pokok yang digunakan dalam torti berupa pelepah daun pisang yang sudah kering atau yang masih basah (baru dipotong dari pohon).

Permainan diawali dengan menentukan tempat inglo (pos pemberhentian) yang berupa pohon besar. Tempat kelompok yang jaga menutup mata dengan kedua tangannya dan menunggu kelompok lain bersembunyi. Juga sebagai tempat pemberhentian bagi kelompok yang jalan setelah mereka bersembunyi. Setelah suit untuk menentukan anggota kelompok dan mengundi kelompok mana yang jaga·lalu kelompok ini akan menutup mata sambil diawasi wasit yang telah ditunjuk, "Ude ape belon?" Jika kelompok yang jalan menyahut, "Torn ... Ti !", berarti mereka sudah bersembunyi dan siap untuk dicari. Kalau bisa ditemukan maka ia akan dipukul dengan pemukul dari pelepah pisang pada bagian lutut kaki. Untuk menghindari pukulan peserta boleh lari ke inglo supaya kelompok yang jaga menghentikan pukulannya. Bila tidak berhasil ditemukan dan bisa kembali ke inglo maka ia bebas dari pukulan, mendapat poin satu, dan dinyatakan menang. Sedang peserta yang kena pukulan berarti mengurangi satu angka bagi kelompoknya. Permainan torti pernah dikenal oleh masyarakat Batavia Sentrum sampai batas Banjir Kanaal yang dikenal sebagai daerah Tanah Abang, Kelurahan Kebon Melati, Jakarta Pusat.