Topographic Bureau

Dikembangkannya Biro Topografi Hindia Belanda berawal dari keinginan pemerintah kolonial Belanda untuk memiliki peta yang baik mengenai daerah pedalaman di pulau-pulau penting di Hindia. Dari awal 1840-an, kebutuhan akan rencana mempertahankan pulau Jawa merupakan motivasi utama yang menjadi awal adanya program pengukuran tanah dan para tentaralah terutama yang mempunyai tugas ini. Survai Topografi pertama atas Jawa dilaksanakan antara 1949-1953 meliputi wilayah antara Batavia dan Buitenzorg (Bogor). Kerja pengukuran ini kemudian dilanjutkan dengan membuat peta-peta topografi Batavia saja. Pada 1857, jumlah personil pengukuran meningkat dari 1 pasukan menjadi 2 pasukan, dan kemudian menjadi 4 pasukan pada 1864. Pada 25 Februari para pengukur tanah atau juru ukur secara formal disyahkan menjadi suatu "Biro Topografi" yang sebelumnya hanyalah person-person anggota korps atau kesatuan insinyur militer. Namun demikian biro tetap berada di bawah pengawasan ketat korps tehnik militer.

Pada 7 April 1874, Biro Topografi menjadi bagian dari staf umum kemiliteran yang berdiri sendiri dan namanya menjadi Dinas Topografi (Topografi "Dienst"). Pada waktu itulah muncul sebuah studio fotografi yang menjadi bagian dari fasilitasnya untuk tujuan utama membuat reproduksi peta-peta topografi. Pada 1901 staf pegawai ttudio fotografi pada dinas Topografi terdiri dari seorang juru foto dengan pangkat pegawai negeri atau pengawas militer, dua juru foto pembantu dari pangkat bintara dan dua pembantu pribumi. Sekalipun demikian selama akhir 1913, studio fotografi masih menggunakan plat-plat kolodion basah dengan ukuran maksimum normal 90 kali 90 meter. Pada 1907 Dinas Topografi dipisahkan dari staf umum militer dan menjadi divisi ke-9 kementrian urusan perang (Ministry of War).