Tocang

Merupakan model rambut tradisional di kalangan orang Cina pada masa kolonial Belanda. Model tersebut di bagian depan kepala plontos, sedangkan, di bagian belakang disisakan rambut yang terurai, tapi biasanya dikuncir panjang. Bagian yang ditumbuhi rambut itu bundar dan dinamakan 'serabi'. Bila 'serabi' rambut itu sudah cukup panjang kemudian dikepang dengan sutera kuncir. Sutera kuncir pun memiliki ciri khas yang tidak boleh dilanggar. Untuk lelaki yang tengah beranjak remaja, sutera kuncirnya diberi warna merah. Sedangkan, bagi pria dewasa yang sudah menikah diberi warna sutera hitam. Khusus bagi mereka yang berkabung karena ada sanak keluarganya yang meninggal dunia, biasanya sutera kuncirnya berwarna putih dan biru.

'Tocang' ini pertama kali dipaksakan oleh orang Mancu ketika mereka menduduki daratan Cina tahun 1644. Jika orang Cina itu meninggal barulah 'tocang' boleh dipangkas alias dipotong. Tradisi ini tidak dilarang oleh pemerintah Kumpeni Belanda. Karena dianggap tidak menganggu keberadaan kekuasaan Kumpeni Belanda di kota Batavia. Malah, oleh Kumpeni Belanda tradisi itu dipajaki yang dikenal dengan nama pajak konde. Pajak ini dikenakan bagi pria Cina dewasa yang sudah menikah dan berpenghasilan.

Kemudian banyak generasi muda etnis Cina yang keberatan dengan model rambut unik tersebut. Apalagi setelah mereka bergaul dengan para pejabat Kumpeni Belanda yang tampil necis dengan jas serta topi keren. Belum lagi pergaulan dengan kaum pendatang yang singgah di kota Batavia, terutama berasal dari daratan Eropa. Karena itulah maka kemudian seorang tokoh Cina di kota Batavia bernama Tiong Hoa Hwee Koan melayangkan telegram kepada pemerintah Ceng (Mancu) di Peking. Dalam telegram itu, Tiong Hoa Hwee Koan menanyakan apakah pemotongan 'toceng' diperbolehkan secara resmi. Lama jawaban itu muncul. Sampai akhirnya datang balasan telegram yang isinya ngambang: resmi dizinkan sebetulnya tidak.