Tjerita Rossina

Cerita bersambung dalam surat kabar Bintang Betawi karya F.D.J. Pangemanan yang diterbitkan pada tahun 1903. Tjerita Rossina juga telah dipentaskan di panggung komidi bangsawan di kota besar di pantai utara Jawa, pantai timur Sumatera, Singapura, dan Malaya. Balai Pustaka menerbitkan cerita ini atas nama Toelis Soetan Pati dengan menyebutkan "dipetik dari karangan Tuan F.D.J. Pangemanan". Ada juga tulisan plagiat H.F.R. Kommer yang terbit dengan judul Rossinna (dengan 2 n), kemungkinan ditulis setelah Pangemanan meninggal dunia (1910). Menurut Pramoedya Ananta Toer, karya tiruan ini merupakan plagiat yang sangat kasar dan memperlihatkan kemandulan plagiator di bidang imajinasi, karena ia hanya melakukan perubahan pada bagian atas. Jumlah dan susunan alinea dan kalimat hampir tidak berbeda. Walaupun UU Hak Cipta baru diberlakukan di Hindia Belanda pada tahun 1912, hal itu tidak mengurangi pelanggaran moril di bidang seni. Tjrita Rossinna milik H.F.R. Kommer dicetak oleh Bataviasche Snelpersdrukkerij Kho Tjeng Bie & Co, Pantjoran Batavia (Java), 1910.

Njerita Rossina berkisah tentang seorang Rossina, budak dari Bali, milik Van der Ploegh. Rossina yang cantik harus bersedia dinikahkan dengan Apol, budak tua yang jelek karena Nyonya van der Ploegh takut suaminya akan direbut oleh Rossina. Nyonya ini pernah membakar tangan Rossina gara-gara membuat anaknya, sinyo Jantje menangis. Apol yang melihat semua itu tumbuh dendamnya, ingin membunuh nyonya yang kejam itu. Pada suatu hari ketika nyonya Ploegh bersama anak-anaknya pergi bertamasya ke Kebon Binatang Mas di Ancol, Rossina memutuskan untuk lari ikut dengan Djojo yang dicintainya. Apol yang tidak menemukan istrinya mengira bahwa Rossina telah dibunuh nyonyanya. Dengan marah dia membunuh nyonya Ploegh dan anak-anaknya. Ketika mau ditangkap tuan Ploegh, Apol bisa melarikan diri. Untung tak dapat diraih malang tak bisa ditolak, Rossina yang memutuskan lari dengan Djojo, yang mengaku juragan kayu ternyata hanya seorang kepala perampok yang kejam. Apol dalam pelariannya masih terus berusaha mencari Rossina. Di sebuah hutan antara Betawi dan Bogor, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan kawanan perampok si Djojo dengan Siman yang baru saja menculik nona Annie. Siman mau mengambil Rossina sebagai istri karena Djojo sudah punya nona Annie. Apol kemudian melaporkan gerombolan perampok itu kepada tuan van der Laan, kekasih nona Annie. Cerita diakhiri dengan pernikahan Laan dengan Annie dan diberikannya surat pembebasan kepada Apol dan Rossina.