Tjarita Parahijangan

Naskah sejarah tradisional Sunda yang disusun pada akhir abad ke-16, mengisahkan perkembangan Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda berdasarkan urutan kronologis raja-raja yang memerintahnya sejak raja pertama (Wretikandayun) hingga raja terakhir (Nu Sia Mulya), hal ini ditunjukkan dari penyebutan orang Islam dan Portugis dengan bahasa Arab. Di dalamnya dikemukakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan masalah-masalah yang timbul pada masa pemeritahan tiap raja beserta lamanya raja-raja itu memerintah. Karangan ini disusun oleh warga Kerajaan Sunda pada masa kerajaan tersebut tengah mengalami kehancuran akibat desakan kekuasaan kerajaan Islam (Cirebon). Karangan ini ditulis pada daun lontar dengan menggunakan aksara Sunda dan berbahasa Sunda Kuno. Naskahnya ditemukan di daerah Galuh dan sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta dalam kropak 406 bersama dengan naskah lain. Tebal naskah itu 47 lembar dengan ukuran 21x3 cm, tulisan bolak-balik setiap lembar dan setiap halaman ada 4 baris tulisan. Penelitian atas naskah ini telah lama berlangsung dan dilakukan oleh beberapa orang, seperti K.F. Hole (1881), CM. Pleyte, R.M.Ng. Purbacaraka (1921), H. ten Dam (1957), J. Noorduyn (1962, 1965), W.J. van der Meulen (1966), Aca (1968, 1981), Saleh Danasasmita (1981). Penelitian mereka berhasil merekonstruksi teksnya dan membuka tabir isi naskah secara sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya berhasil disusun seluruh ceritanya secara berurutan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda baru dan bahasa Indonesia serta penafsiran sejumlah istilah tertentu yang penting. Berdasarkan informasi dari naskah ini diperbandingkan dengan sumber lain (prasasti, berita Portugis, naskah lain, peninggalan berupa situs), kini dapat diidentifikasi sejumlah raja Sunda dan Galuh serta beberapa keterangan mengenai raja-raja dimaksud dan waktu pemerintahannya.

Selama tahun 1970-an, ditemukan lagi 5 naskah Carita Parahyangan yang ditulis pada kertas daluang di beberapa tempat di Pulau Jawa. Naskah tersebut ditulis dalam huruf Jawa-Cirebon dan berbahasa Jawa-Cirebon yang kemudian disimpan di Museum Negeri Sri Baduga Bandung. Isi karangannya merupakan satu kesatuan cerita yang disusun berdasarkan pembagian sargah-sargah, kecuali sargah lima berisi ringkasan dan perbaikan isi sargah sebelumnya. Karangan di dalam lima naskah itu menurut keterangan di dalamnya disusun oleh Pangeran Wangsakerta beserta pembantunya dan merupakan penafsiran serta perluasan terhadap isi naskah Carita Parahyangan yang sudah ada yang disusun di Sumedang oleh Pangeran Geusan Ulun, penguasa Sumedang larang, pada tahun 1601. Kiranya karangan yang dimaksud adalah karangan yang berada dalam naskah lontar Carita Parahyangan itu. Kelima naskah itu telah dialih aksarakan ke dalam huruf Latin dan diterjemahkan teksnya ke dalam bahasa Indonesia oleh Atja dkk (1989, 1991) serta ringkasan isi seluruhnya dalam bahasa Indonesia disusun oleh Etti, R.S. (1991).

Menurut Pleyte, Tjarita ini disusun di Galuh sebelum Pajajaran runtuh kurang lebih tahun 1579, dan 47 lembar memuat Tjarita yang susah disusun dan tidak diketahui kesetiaan yang menyalin manuskrip asli. Bahasanya tidak terlalu berbeda dengan bahasa Sunda sekarang. K. F. Hole dan CM Pleyte membeberkannya, sedangkan R.Ng. Poerbatjaraka mentranskripsi naskah dan menerbitkannya. Drs. Atja mengatur kembali helai dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Sunda sekarang. Noorduyn kemudian mempelajari Tjarita dan menulis tentangnya serta menerjemahkan sebagian ke dalam bahasa Belanda. Tjarita Parahijangan ditulis secara pendek dan sering dalam kalimat yang kurang lengkap, tetapi mengandung beberapa hal yang sesuai dengan sejarah Jakarta pada awal abad ke-16. Tjarita ini berisi tentang peperangan Raja Surawisesa dan pasukannya yang berjumlah kurang lebih 1.000 orang, juga perang Kalapa serta Tanjung, Ancol, dan Banten-Girang.