Tjarda Van Starkenborgh Stachouwer

Gubernur Jenderal Belanda terakhir yang menyerah pada Jepang tahun 1942. Ia diangkat menjadi gubernur jenderal tahun 1936 menggantikan Gubernur Jenderal B.C de Jonge. Sebelum diangkat menjadi gubernur jendral, sebelumnya memang bekerja dalam dinas kediplomatan ini. Ia berdinas sebagai duta besar untuk Paris dan wakil negeri Belanda untuk NATO, juga di Paris. Dalam lukisan ini Van Starkenborgh tidak mengenakan pakaian resmi gubernur jendral sebagaimana dalam gambar-gambar lukisan gubernur jendral lain yang dipajang dalam ruang balai tersebut, tetapi pakaian dinas seorang duta besar periode pasca perang. Di pundak kanan tersemat sebuah selempang Nederlandse Leeuw (Singa Belanda) yang menyelempang dari krah bajunya yang merupakan lambang seorang komandan pada masa itu.

Sebagai seorang gubernur jendral, ia berhasil mengadakan penyehatan ekonomi setelah terjadinya krisis panjang selama bertahun-tahun. Tetapi pemulihan ekonomi ini terancam oleh akan terjadinya PD diwaktu dekat. Pada waktu Van Starkenborgh menjadi gubernur jendral tidak ada kekhawatiran memberikan kelonggaran terhadap gerakan nasionalis bangsa indonesia, yang kebanyakan pejabat Belanda menganggap gerakan nasionalis sebagai ancaman pemberontakan. Penyerangan Jepang terhadap Hindia Belanda dengan segera diikuti dengan menyerahnya Belanda pada 9 Maret 1942. Pada akhir Desember, ia berkeputusan menetap di Jawa, namun diusir dan diasingkan sebagai tawanan perang. Selama masa perang ini ia berada di barak-barak pengasingan di Singapura, Taiwan, Jepang, dan Mansuria. Pada tanggal 9 September 1945 Van Starkenborgh kembali ke negeri Belanda. Ia diberhentikan dengan hormat sebagai gubernur jendral pada 16 Oktober. Tidak sampai 2 bulan kemudian Soekarno mengumandangkan kemerdekaan dan menyatakan berdirinya negara RI. Setelah terjadinya PD II, ia memulai lagi karirnya dengan tugas-tugas kediplomatan. Tahun 1939 meresmikan Museum Batavia yang kemudian menjadi Museum Wayang.