Tirto Adhisoerjo, Rm

Seorang tokoh pergerakan bangsa yang turut mengukir ·sejarah Indonesia. Lahir di Blora tahun 1880 dan meninggal di Jakarta 7 Desember 1918. Pendiri Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia 1909 dan Sarekat Dagang Islam di Bogor 1911. Ayahnya, Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro adalah seorang petugas pajak, sedang kakeknya adalah Bupati Bojonegoro, Raden Mas Tumenggung Tirtonoto. Zaman Tirtoadisuryo berkiprah adalah zaman yang dipengaruhi oleh munculnya kebijakan kolonial baru yang dikenal dengan politik etis. Ia berperan penting sebagai pelopor jurnalisme dan pembangun gerakan emansipasi rakyat. Ia seusia dengan Raden Ajeng Kartini. Sastawan Pramudya Ananta Toer menggambarkannya sebagai "Sang Pemula".

Mas Marco Kartodikromo wartawan legendaris dari kancah pergerakan nasional, menyebutnya sebagai "indoek journalist". Bukan hanya karena Tirto mengawali profesi sebagai wartawan inlander, tetapi karena ruh dan pengabdiannya kepada bangsa yang diwariskannya sebagai ilham. Sebagai jurnalis, ia melempangkan jalan rakyat untuk memahami hak-hak dan martabat mereka. Tugas pers, menurutnya adalah merombak masyarakat ke arah kemajuan dan kesempurnaan. Untuk itu, diperlukan pikiran yang merdeka, pikiran yang bebas dari belenggu ketakutan dan kekerdilan.

Karirnya sebagai jurnalis tergambar dalam kegiatannya yang luar biasa, baik dalam mengelola persuratkabaran maupun kegiatan tulis-menulis. Ada sekitar 14 terbitan yang ia kelola, pimpin dan sebagai penulis tetap, yaitu Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Priyayi, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia, Sarotama, Soeara BOW, Soeara Spoor dan Tram, dan Soearaurna. Ia redaktur kepala pertama bagi sejarah orang pribumi di Hindia Belanda. Ia bukan hanya jurnalis dalam arti sebagai penulis berita dan perumus gagasan, namun juga mengarang karya-karya nonfiksi. Di situlah dia memberi dukungan kepada kaum merdeka, juga harapan dan kekecewaannya terhadap diri sendiri dan masyarakat kolonial. Raden Mas Tirtoadisoerjo memiliki nama samaran Djokomono. Karena salah satu kritiknya yang ditujukan pada seorang kontrolir, ia dibuang oleh penguasa kolonial ke Pulau Bacan (sekitar 1910). Pada 1974 dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia oleh pemerintah RI.