Tiram

Budi daya tiram khusus dilakukan oleh orang Cina di pesisir, selain ikan dan pembuatan garam. Diperkirakan mereka membawa teknologi tersebut dari Pantai Guang-dong dan terutama Pantai Fujian. Menurut Francois Valentijn (dalam karyanya Oud en Nieuw Oost Indien) sejak tanggal 28 Desember 1655 orang Cina di Batavia telah diberi hak istimewa selama tiga tahun untuk mengembangkan budi daya tiram. Kerang yang dihasilkan sangat bagus, bening dan padat. Mereka menjual hasilnya ke kota dengan harga sangat murah. Kemudian bagi yang memiliki toko dijalan harus menyerahkan dua riijkdale tiap bulan, sesuai keputusan Pemerintah tanggal 12 Maret 1658.

Tambak-tambak yang diusahakan orang Cina memasok sebagian besar tiram yang dikonsumsi, terutama tambak besar di Tagallangus (dekat Tanjung Kait) milik Soenkoe. Kemudian pada abad ke-18 beberapa orang Eropa juga berminat membudidayakan tiram. Pada masa itu kerang merupakan produk mewah dan tampaknya tidak dibudidayakan di luar Teluk Batavia.