Tim Kantoso

Pemerhati musik jazz. Penggagas lahirnya kelompok-kelompok band khususnya jazz ini selalu berupaya mengembangkan musik tersebut. Ia merangsang dan mendorong para seniman musik untuk memainkan jazz dan menyediakan wadah untuk kegiatan itu. Sewaktu menduduki posisi wakil manajer bidang budaya dan seni Hotel Indonesia, awal tahun 1960-an, membuka kesempatan kepada para musik jazz untuk tampil. Berbagai kelompok Band, musisi dan penyayi jazz muncul di Ramayana Restoran Hotel Indonesia. Penyuka celana jins dan baju planel dengan motif kotak-kotak ini, awalnya ingin menjadi musisi. Di tengah jalan "membelot" , dan memilih sebagai pengamat musik, khususnya jazz.

Para musisi seperti Bill Saragih, Didi Chia, Hanny Joseph, Yanuar Ishak, Benny Mustapha, Sadikin Zuchra dll, sering melewatkan waktu sampai pagi di rumahnya, untuk bicara dan berdiskusi tentang jazz. Bersama Mas Dibyo melobi tokoh seperti Tead Ashford, dari USIS (Lembaga Informasi Kebudayaan AS) di Jakarta, untuk menyelenggarakan konser-konser jazz di Jakarta dan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Bagi banyak musisi, Tim Kantoso bukan hanya orang yang sekedar bicara soal perkembangan jazz di Indoneisa, tetapi melakukan tindakan yang nyata dengan membuat lapangan kerja bagi para musisi. Ia juga figur yang tidak segan turun tangan untuk menggulung kabel dan memperbaiki mikrofon yang ngadat dalam sebuah pertunjukkan jazz. Tokoh yang banyak memiliki koleksi piringan hitam jazz ini, sampai masa pensiunnya sebagai pegawai di PT. Hotel Indonesia Internasional (HII) masih terus aktif melakukan apresiasi jazz, seperti seminar, menulis artikel dsb. Tim Kantoso juga menjadi penyiar radio swasta di Jakarta, mengasuh acara khusus apresiasi musik jazz.