Tiga A, Gerakan

Badan yang dibentuk guna membantu peperangan, sebagai realisasi kerjasama bangsa Indonesia dan Jepang. Didirikan pada bulan April 1942, dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan kekuatan guna menghadapi kekuatan Barat di bawah satu komando dan dikatakan bahwa pengaruh yang sudah ada selama ini mengkorup "jiwa orang Timur". Mencakup slogan Asia untuk Asia dengan semboyan berupa Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya. "Saudara tua" itu datang ke Indonesia untuk memakmurkan Asia demi kebahagiaan bersama, lepas dari kungkungan Barat di bawah pimpinan Jepang.

Selain itu Jepang telah mengindoktrinasikan fanatisme Asia guna merealisasikan cita-cita "Asia untuk Asia dan Jepang induk negeri Asia". Gerakan yang dipimpin oleh Mr. Samsudin ini digembar-gemborkan dalam berbagai rapat umum di beberapa tempat seperti di Bioskop Rialto (bioskop Surya) Tanah Abang, Bioskop Central (Bioskop Jaya) Jatinegara, Bioskop Orion Glodok dan di Decca Park (Lapangan Monas). Mr. Samsudin adalah seorang tokoh politik terkemuka waktu itu yang sangat dekat dengan pemerintah, bekas pemimpin Parindra yang sejak lama telah menaruh simpati terhadap fanatisme Jepang. Pada tahap awal pemerintah Jepang berusaha mendekati para nasionalis lunak yang tidak berbahaya terhadap pemerintahnya dan mereka dianggap dapat diajak kerjasama dengan pemerintah. Dengan cara ini dimaksudkan agar para nasionalis langsung dapat diawasi. Karena untuk sementara waktu, para kaum nasionalis garis keras belum dapat didekati oleh pemerintah, tetapi setelah pendekatan dengan nasionalis lunak gagal, maka pemerintah mulai mendekati para nasionalis ini dimanfaatkan untuk mengawasi bangsa Indonesia.

Gerakan "Tiga A" dapat dikatakan gagal, karena sejak awal hanya sedikit dari bangsa Indonesia yang menaruh simpati terhadap tindakan pemerintah Jepang. Gerakan ini tidak hidup lama dan tidak berhasil mendapatkan pengaruh di kalangan massa maupun terpelajar. Kegagalan organisasi ini disusul oleh organisasi-organisasi yang didirikannya kemudian meskipun Jepang masih tetap percaya bahwa organisasi itu akan berhasil membantu Jepang dalam peperangan.