Tete Jonker

Seorang Kapten, putera dari Sangadjie Kuwasa dari Tumalohu Malipa Ambon kira-kira pada tahun 1630. Tokoh Tete Jongker merupakan orang kepercayaan VOC yang kemudian memberontak kepada Belanda karena menyadari Belanda adalah penjajah. Tete Jongker yang beragama Islam selanjutnya melarikan diri ke Pulau Jawa dan menetap di daerah Marunda. Pemerasan dan tekanan-tekanan VOC terhadap rakyatnya membuat Sangadjie membenci VOC dan sering mengadakan tukar pikiran dengan Sultan Ternate (musuh Belanda) mengenai daerah masing-masing dan membuat orang-orang VOC curiga. Banyak perlawanan rakyat hingga tahun 1651 dipatahkan oleh Belanda dan pengikutnya.

Tahun 1653, Sangadjie sebagai penguasa dari Manipa dan Tete Jonker (puteranya) diajak berkeliling ke pulau-pulau lainnya oleh Belanda. Tetapi setelah keliling, Sang Adjie dan puteranya dibawa ke Ambon dan ditahan di dalam benteng. Tete Jonker diberi kedudukan sebagai Vaandrig oleh Belanda dan tahun 1658 dikirirnkan ke Batavia. Sebagai seorang pejuang setiap saat ia mencari jalan untuk menumpahkan amarah kepada Belanda yang menipunya. Selain itu, ia melihat sendiri bagaimana pengikut-pengikut Belanda menyiksa bangsanya sendiri yang menjadi tawanan kompeni yang dipaksa bekerja keras dengan upah yang sangat minim. Ia memberikan semangat kepada para tawanan untuk bertindak berbalik melawan Belanda. Setiap ada kesempatan, Kapten Tete Jonker selalu mengadakan tikaman pada pasukan kulit putih.

Jonker mengadakan hubungan gdap dengan Syeh Jusuf, Pangeran Purbaya, Pangeran Sake dll. Tahun 1684 ia minta satu tempat pada Kompeni untuk penempatan anak buahnya dan diberikan di Marunda. Dan sejak tahun 1684 ia tidak lagi mengikuti gerakan-gerakan Belanda ke daerah-daerah untuk menyerang wilayah bangsanya sendiri. Kemudian Jonker mengadakan hubungan dengan para gerilyawan yang terus-terusan melawan Belanda dan ia diangkat menjadi ketua perkumpulan yang terdiri dari Makasar, Bugis, Melayu dan Jawa itu.

Tanggal 24 Agustus 1689, dengan 2000 serdadu sewaan Belanda yang bersenjata lengkap menyerang Marunda. Setelah tahu kekuatan lawan, Jonker memberi komando pada pasukannya untuk memberikan perlawanan. Namun setelah mengetahui kekuatan lawan, ia memberi komando yang mengarah ke udara sehingga pasukannya yang sempat menerobos ke arah timur dapat menyelamatkan diri, tinggal pengawal dan Jonker yang masih melawan dengan berani. Jonker dikeroyok oleh dua orang perwira Belanda dari kanan dan kiri. Pengeroyokan yang tidak seimbang ini mengakibatkan Jonker terkena sabetan pedang dan ia meninggal dalam keadaan luka parah dan dikuburkan di Marunda. Terletak di Pejongkeran, dalam kawasan pelabuhan KEN II Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Fisik bangunan yang sekarang terlihat adalah bangunan tahun 1970. Di samping makam Tete Jongker juga terdapat makam Dotulong orang kepercayaa  Tete Jongker yang berasal dari Minahasa. Akhir-akhir ini tempat itu semakin habis oleh arus laut, maka tulang-tulangnya kemudian dipindahkan ke arah dalam, dan sekarang berada di dalam pekarangan Asrama Polisi AIRUD Cilincing.