Terang Boelan

Film hiburan yang berorientasi pada publik pribumi. Dibuat dalam payung perusahaan Algemeene Nederlnds Indische Film Synd (ANIF) dengan Albert Balink yang bertindak sebagai produser; Saeroen menulis skenario merangkap sutradara; Joshua Wong menangani kamera; dan berkisah tentang lika-liku perkawinan dua sejoli berbeda adat istiadat diperankan oleh Rd Mochtar dan Miss Roekiah, di sebuah pulau fiktif bernama Sawoba (singkatan Saroen, Wong dan Balink). Cilincing (Tanjungpriok), pantai Merak di Banten, dan Tanjung Katong di Singapura diambil sebagai tempat lokasi film.

Selain Rd Mochtar dan Miss Roekiah pemeran lainnya ialah Kartolo, Eddy, dan Ismail Marzuki. Walau hanya mendapat peran sebagai figuran, Maing boleh dikatakan mempunyai andil yang cukup besar. Dia mengisi ilustrasi musik film itu, bahkan suaranya dipakai secara sinkro dengan teknik sulih suara untuk Rd Mochtar saat menyanyikan lagu-lagu romantis. Poelaoe Sawoba, Doedoek Termenoeng, Di Tepi Laoet adalah lagu-lagu yang menurut Armijn Pane, ilustrasi musik film Terang Boelan kental bernafaskan keroncong modern. Jenis musik ini dimasukkan ke dalam film saat pergerakan pemuda tengah berolah-pikir soal kesenian kesatuan. Masyarakat menyambut antusias film Terang Boelan. Saat pertunjukkan perdana di Bioskop Rex, Batavia, calon penonton terpaka antre-berdesakan. Sejak itu pula beberapa produser film di Hindia-Belanda berlomba memproduksi film-film yang sesuai dengan publik untuk tujuan komersial.

Film Terang Boelan menyeberang sampai Singapura dan Malaya. Para penonton kedua negeri bukan saja menyukai isi cerita yang ditampilkan film itu, tetapi juga ilustrasi musiknya. Impresario bernama Robert Chiang agaknya mampu menangkap rasa penasaran mereka. Dia segera mengundang Ismail Marzuki dan kawan-kawan untuk menggelar pertunjukan musik di Singapura dan Malaysia. Setelah menandatangani kontrak, gabungan orkes Lief Java dan The Sweet Java Islnder berangkat menuju kedua negeri melalui Pelabuan Tanjungpriok dengan menumpang kapal laut KPM (Koninklijke Paketvaart-Maatschappij) SS Plancius pada 16 Juli 1938. Violis terkenal M "Raja Jali-Jali" Sagi ikut serta dalam rombongan yang mereka namakan Terang Boelan Party. Setelah bermain musik di Singapura, menurut jadwal, mereka akan manggung di beberapa kota mulai dari Johor, Sungai Muar (Malaka), Tampin (Negeri Sembilan), Kuala Lumpur, Taiping (Ipoh), sampai Alor Star (Kedah). Lawatan direncanakan berlangsung selama 40 hari penuh. Iklan dan poster berbagai ukuran yang mencantumkan jadwal rinci pertunjukkan Terang Boelan Party, termasuk profil singkat para pemain, tereetak dalam surat kabar setempat dan terpampang di dinding beberapa gedung jauh hari sebelum rombongan menjejakkan kaki di Singapura.

Pertunjukan pertama Terang Boelan Party digelar di salah satu gedung bioskop yang cukup lapang. Para musikus berbusana seragam dan tampak sangat apik: kemeja putih, jas putih berbalut warna merah di sekitar leher dan dada, berdasi kupu-kupu hitam, celana panjang dan sepatu hitam mengkilat. Usai lagu pembukaan, mereka memainkan lagu-lagu pop, dendang Melayu, keroncong, dan kembali lagi ke instrumental disambung dengan potpouri Melayu. Terus-menerus, silih-berganti, non-stop. Penonton terpesona dan menyambut pertunjukan mereka dengan antusias. Tepuk tangan membahana sekitar satu menit ketika Terang Boelan Party menutup pergelaran musik. Bahkan beberapa penonton menyempatkan diri naik ke panggung untuk menghadiahkan karangan bunga kepada mereka. Keesokan pagi, halaman pertama dari sebagian besar surat kabar setempat penuh berisi ulasan panjang lebar tentang kepiawaian musiku dari Hindia Belanda itu. Tiga hari berturut-turut Terang Boelan Party menghibur masyarakat Singapura. Sesudah itu mereka melanjutkan perjalanan dan mengadakan pertunjukkan di beberapa kota di Malaya. Kadang-kadang mereka menemukan pengalaman baru khususnya saat berinteraksi dengan para penonton melemparkan uang ringgit, meminta mereka memainkan atau menyanyikan ulang lagu-lagu yang disukai.