Tempo

Majalah berita bertiras paling besar dalam sejarah pers Indonesia. Pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an tiras majalah Tempo mencapai lebih dari 150.000 eksemplar. Majalah mingguan ini sejak awal terbitnya, 6 Maret 1971, dipimpin oleh sastrawan Goenawan Mohammad sebagai pemimpin redaksi/pemimpin umum dan pengusaha Eric Frits Hermanus Sermola sebagai direktur. Wakil pemimpin redaksi sejak Tempo didirikan, dijabat oleh sastrawan Bur Rasuanto. Tetapi sejak pertengahan tahun 1980-an, beberapa tahun setelah Bur Rasuanto mengundurkan diri dari majalah ini, jabatan wakil redaksi dipegang oleh Fikri Jufri.

Mereka mendirikan majalah Tempo bersama sejumlah wartawan dan sastrawan lainnya seperti Christianto Wibisono Harjoko Trisnadi, Usamah Said Salim Said' Lukman Setiawan, Zen Umar Purba, Syahri; Wahab, Yunus Kasim, A. Bastari Asnin Syu'bah Asa, Putu Wijaya, Harun Musawa: Jusril Djalinus, dan Herry Komar. Para pendiri Tempo bekerja sama dengan Yayasan Jaya Raya (YJR) yang memberikan pinjaman modal. Yayasan ini diketuai oleh Ciputra, pengusaha dan direktur Utama PT. Pembangunan Jaya. YJR dibentuk oleh sejumlah pengusaha untuk membantu Pemda Daerah Khusus Ibukota Jakarta dalam membina olah raga dan penerbitan buku.

Untuk menyelenggarakan penerbitan majalah ini, mula-mula yayasan mendirikan Badan Usaha Jaya Pres sebagai penerbit Tempo. Tetapi tiga tahun kemudian pada bulan Februari 1974, YJR bersama PT. Pikatan, perusahaan milik pendiri dan karyawan Tempo, mendirikan badan penerbit PT Grafiti Pres dengan modal 50% - 50% dari masing-masing pihak. Dalam perkembangannya saham YJR di Grafiti Pres sebesar 40,65%, dan selebihnya dimiliki para pendiri dan yayasan karyawan. Di samping mengelola Tempo, Grafiti Pres memperluas bisnisnya dengan menerbitkan buku, mengadakan kerja sama manajemen dengan beberapa penerbit pers lain, atau membeli sahamnya untuk memajukan berbagai penerbitan pers di Jakarta dan daerah.

Sebagai produk para sastrawan dan wartawan, Tempo sejak awal terbitnya memprakarsai penggunaan perpaduan bahasa sastra dan bahasa jurnalistik, seperti yang dikembangkan oleh penganut Jurnalisme Baru di Amerika Serikat. Mereka juga amat menaruh perhatian kepada pemakaian bahasa Indonesia yang jelas dan jernih, "sebagai sumbangan kepada pertumbuhan bahasa Indonesia, terutama bahasa Jurnalistik" kata pengasuh dalam "Pengantar Redaksi" di nomor pertama. Kata pengantar itu mengungkapkan pula landasan pikiran para pengasuh majalah ini, "Asas Jurnalisme kami ... bukanlah asas jurnalisme politik, yang memihak satu golongan. Karni percaya bahwa kebajikan, juga ketidakbajikan, tidak menjadi monopoli satu pihak. Kami percaya bahwa tugas pers bukanlah menyebarkan prasangka JUstru melenyapkannya bukan membenihkan kebencian melainkan mengkomunikasikan saling-pengertian. "

Tempo baru berumur 2 tahun ketika pada tahun 1973 mendapat gugatan dari majalah Amerika Serikat, Time karena kemiripan sampul mukanya dianggap penjiplakan dari majalah tersebut. Tetapi ketika perkara ini sedang diperiksa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, gugatan itu tiba-tiba dicabut kembali pertengahan tahun berikutnya. Satu-satunya majalah Indonesia yang pernah memperoleh penghargaan untuk perwajahan sampul muka terbaik dari konferensi internasional tentang penerbitan majalah se-Asia. Penghargaan berupa piala dari First Asian Publising Congress yang diadakan di Singapura bulan Februari 1987 diberikan untuk sampul muka edisi 18 Januari 1986 karya Oentharto berdasarkan desain ciptaan S. Prinka. Ilustrasi sampul muka itu menampilkan wajah Presiden Libya Qadhafi yang sedang merobek bendera Amerika Serikat dan dibayangi wajah Presiden Reagan di latar belakang. Majalah ini terpilih di antara 250 kreasi sampul muka dari 13 negara Asia. Tempo termasuk di antara sejumlah kecil media pers Indonesia yang mempunyai koresponden tetap di berbagai kota besar di luar negeri. Termasuk di Bangkok, Kuala Lumpur, Tokyo, Washington, D.C, Vancouver (Kanada), dan Paris. Pada tanggal 21 Juni 1994 majalah Tempo dicabut izin terbitnya bersama majalah Editor dan tabloid Detik. Setelah melewati perjuangan yang panjang dan melelahkan, akhirnya majalah ini dapat terbit kembali pada akhir 1998.