Televisi Swasta

Pada tanggal 24 Agustus 1989, Presiden Soeharto meresmikan TV swasta pertama, yang dikelola oleh PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCT!), di Jakarta. Setiap pelanggannya membayar iuran Rp. 30.000 sebulan dan uang jaminan untuk dekoder. Jangkauan siarannya terbatas, hanya di sekitar radius 60 kilometer. Sebagian besar mata acaranya, berupa cerita seri atau musik video yang diimpor dari Amerika Serikat. Setahun kemudian, pemerintah mencabut ketentuan keharusan memakai dekorder sehingga penduduk di sekitar Jakarta yang mempunyai televisi warna dapat menikmati tayangan RCTI (RCTI menggunakan saluran 43 yang tergolong dalam ban UHF (ultra high frequency). Pemilik TV hitam-putih, karena hanya menerima siaranVHF (very high frequency), dapat menyaksikan siaran tersebut setelah memodifkasi rangkaian penala pada pesawat penerima.

Tepat pada hari ulang tahun RCTI, 24 Agustus 1990, mengudara pula siaran televisi swasta yang kedua, yang diselenggarakan oleh PT SCTV (Surabaya Centra Televisi yang kemudian berubah nama menjadi Surya Citra Televisi) di Surabaya. RCTI kemudian juga mengadakan siaran di Bandung, yang siaran percobaannya mulai pada tanggal 1 Mei 1991. Setelah itu direncanakan pula pembangunan PT SPTSU (Stasiun Penyiaran Televisi Swasta Umum) di Denpasar. Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah agar di setiap ibukota provinsi didirikan stasiun swasta.

Pada tahun 1990, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan baru di bidang penyiaran televisi. Perusahaan swasta PT Cipta
Televisi Pendidikan Indonesia (CTP!) diberi izin untuk menyiarkan mata acara khusus pendidikan dengan nama Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Karena menyangkut bidang pendidikan, materi siarannya harus dikonsultasikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayan. Siaran pendidikan yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 23 Jimuari 1991, mulai mengudara keesokan harinya. TPI mengudara pada pagi hari dan diselingi dengan iklan yang tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan. Peralatannya mula-mula menggunakan perlengkapan milik TVRI dan acaranya disiarkan melalui studio TVRI Pusat Jakarta, sebelum TPI menyelesaikan pembangunan gedung studio dan pemancarnya sendiri. Jangkauan siaran TPI sarna seperti TVRl, yaitu ke seluruh pelosok Nusantara. Kini muncul banyak televisi swasta. Setelah RCTI, SCTV, TPI, Indosiar muncul TransTV, Global TV, TV-7, Metro-TV, Lativi dll.