Televisi Republik Indonesia

Disingkat TVRI, lahir berdasarkan SK Menteri penerangan pada tahun 1961 untuk mengantisipasi keinginan pemerintah agar pertandingan olahraga se-Asia yang direncanakan diselenggarakan di Jakarta, Asian Games IV, diliput oleh media televisi. Dengan pemancar berkekuatan 100 watt dan tiga kamera serta organisasi penyiaran yang masih sangat sederhana, TVRI berhasil mengudara di saluran 5 dalam acara liputan peringatan 17 Agustus 1962 di Istana Negara. Seminggu kemudian, tanggal 24 Agustus 1962 pukul 14.30 WIB, TVRI mengudara dengan kuat pancar 10 kilowatt. Dari tiang antena setinggi 80 meter yang dipasang beberapa jam sebelumnya, dipancarkan liputan acara pembukaan Asian Games IV di Stadion Utama Senayan di saluran 9.

Siaran televisi yang masih hitam putih ini pada waktu itu baru dapat dinikmati masyarakat di sekitar Jakarta. Namun para pekerja TVRI telah mengukir sejarah baru di dunia media masa Indonesia. Mereka berhasil menangani sendiri teknologi maju, sekitar tujuh tahun setelah penduduk Indonesia melihat pesawat televisi buatan Uni Soviet di Pekan Raya 200 Tahun Kota Yogyakarta (1955). Sejak itu, televisi menjadi kotak ajaib bagi masyarakat Indonesia.

Kombinasi antara sistem jaringan gelombang mikro dan sistem komunikasi satelit Palapa memberikan jangkauan siaran yang sangat luas bagi TVRI. Penduduk hampir di seluruh Nusantara dapat menyaksikan siaran dari Jakarta selain siaran lokal dari stasiun-stasiun terdekat. Masih ada beberapa wilayah yang sulit bahkan tidak dapat dijangkau oleh siaran televisi. Biasanya terjadinya daerah "kosong" tersebut karena medannya memang tidak memungkinkan siaran relai dapat diterima. Satu-satunya cara adalah menggunakan TVRO (TV-receive only) dan antena parabola yang diarahkan ke satelit Palapa, lalu menyiarkan kembali dengan pemancar relai berkekuatan rendah.