Telepon

Pada tahun 1870 Alexander Graham Bell menemukan telepon, David B. Huges menemukan mikrofon dan Thomas Alva Edison menciptakan klos induksinya. Dengan penemuan-penemuan ini diperoleh suatu komunikasi melalui kawat yang memungkinkan adanya pembicaraan dari satu tempat ke tempat lain. Beberapa tahun setelah penemuan tersebut dinas telepon diselenggarakan pula di Indonesia atas prakarsa pihak swasta.

Dengan keputusan pemerintah Nomor 5 Tahun 31 Juli 1881 diberikanlah konsesi kepada sebuah perusahaan swasta untuk menyelenggarakan pemasangan dan pengurusan perhubungan telepon di Jakarta, Gambir, Tanjungpriok, Semarang dan Surabaya. Pembukaan jaring-jaring telepon antara Jakarta, Gambir dan Tanjungpriok dilakukan pada tanggal 16 Oktober 1882, diikuti oleh Semarang dan Surabaya pada tahun 1884. Konsesi yang dimaksud di atas diberikan untuk jangka waktu selama 25 tahun. Konsesi ini menguntungkan pemegang konsesi sehingga perusahaan-perusahaan telepon ini makin berkembang yang pada akhir tahun 1905 jumlahnya mencapai 38. Peralatan yang digunakan masih sederhana sekali, dengan mempergunakan sistem manual. Catu daya yang dipakai berasal dari baterai kering sebagai sumber arus yang ditempatkan di setiap pesawat. Sistem ini dikenal sebagai baterai lokal atau LB.

Kurang lebih tahun 1897 perusahaan swasta Intfl'communal Telefoon Maatschappij berhasil mendapatkan konsesi untuk menyelenggarakan hubungan interkomunal (interlokal). Jangka waktu konsesi ini seperti halnya dengan konsesi untuk perhubungan telepon lokal paling lama ialah 25 tahun. Perhubungan interlokal yang terpenting ialah: Saluran Jakarta-Semarang mulai tanggal 16 November 1896, Jakarta-Surabaya mulai tangal 7 Desember 1896, saluran Jakarta-Bogor mulai tanggal 17 Mei 1898, saluran Bogor-Sukabumi mulai tanggal 12 Juni 1898 dan saluran Sukabumi-Bandung mulai tanggal 15 Juli 1898.