Teater Utan Kayu Gedung 13-14 Mei 1998, Situs Ingatan Tragedi Mei 1998

 

Teater Utan Kayu Gedung 13-14 Mei 1998
Alamat Jalan Utan Kayu No. 68H Jakarta Timur

 

Gedung 13-14 Mei 1998 terletak di Jalan Utan Kayu No. 68H Jakarta Timur. Gedung ini merupakan kantor Green Radio Jakarta. Sebelumnya adalah kantor KBR (Kantor Berita Radio) yang dulunya bernama KBR68H. Gedung 13-14 Mei 1998 ini dijadikan salah satu situs ingatan tragedi 1998 oleh Komnas Perempuan.

Pada tahun 1999, gedung ini dinamakan Gedung 13-14 Mei 2015 sebagai upaya mengingat peristiwa sejarah besar yang terjadi di Indonesia dan upaya melawan lupa akan Tragedi 1998. Saat itu tanggal 12 Mei 1998 terjadi penembakan terhadap mahasiswa Trisakti, sementara tanggal 13-14 Mei 1998 kerusuhan besar-besaran melanda Jakarta dan sejumlah kota besar di Indonesia.

Tidak hanya Tragedi Mei 1998 yang diperingati, di bagian belakang gedung ini terdapat gedung yang diberi nama “Gedung 21 Juni”. Nama ini dipakai untuk memperingati dibredelnya Majalah Tempo, Detik dan Editor pada 21 Juni 1994. Pemerintah Orde Baru melarang ketiganya terbit. Langkah ini memicu demonstrasi massa pertama yang menentang pembredelan di Indonesia. Gedung ini juga menjadi tempat pelatihan wartawan dan pernah menjadi penerbitan tanpa izin. Ketika politik berkembang makin dinamis, banyak mahasiswa akhirnya yang menjadikan gedung ini sebagai markas untuk menerbitkan selebaran menjelang Mei.

Di Utan Kayu ini juga terdapat Yayasan Utan Kayu, yang didirikan pada 4 Desember 2008 oleh beberapa wartawan majalah Tempo dan cendekiawan Indonesia, karena terbatasnya kebebasan pers di masa Orde Baru saat dibredelnya tiga media besar yaitu TEMPO, Editor, dan Detik. Yayasan ini sebelumnya bergabung di Yayasan Kalam, yang merupakan bagian dari komunitas besar yang disebut Komunitas Utan Kayu (KUK) yang terbentuk pada tahun 1994. Komunitas yang beralamat di Jl. Utan Kayu No. 68H Jakarta ini adalah sebuah bentuk komunitas yang mendukung kebebasan khususnya politik pada waktu itu dan mendukung kebebasan bidang kesenian. Komunitas ini dirintis oleh Pemimpin Redaksi TEMPO, Goenawan Mohamad, Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Aristides Katoppo, peneliti LIPI Moehtar Pabottinggi, jurnalis senior Radio Mara Mohamad Sunjaya, praktisi komunikasi UGM Ashadi Siregar, serta beberapa tokoh pers lainnya. Komunitas Utan Kayu juga menjadi saksi gerilya aktivis dalam memperjuangkan kemerdekaan berpendapat. Salah satunya dengan menjadi tempat diskusi aktivis pasca pembubaran Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996. 

Dan sebagai sayap politik KUK, pada saat itu berdirilah Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Kegiatannya meliputi penerbitan buku-buku cepat "politik" dan membangun jaringan pers alternatif. ISAI menyelenggarakan berbagai pelatihan bagi mahasiswa bidang komunikasi untuk pergerakan pro-demokrasi ketika rezim Soeharto runtuh. Dari sini, ISAI juga mendirikan Rumah Produksi Berita Radio dengan nama Kantor Berita Radio 68H.

Komunitas ini juga mendirikan Galeri, yakni Galeri Lontar, sebuah galeri yang mendukung tema-tema eksperimental. Galeri ini diresmikan pada bulan Agustus 1997 dengan nama Teater Utan Kayu (TUK) dengan ruangan berkapasitas 150 penonton. TUK menekankan perkembangan seni pertunjukan yang tidak komersial. Selain itu, untuk memberikan tempat pada perdebatan pemikiran yang bebas, KUK menciptakan jurnal kebudayaan KALAM (pertama kali terbit Februari 1994), yang memuat karya sastra (puisi sampai petikan novel) dan karya telaah (esai) dari berbagai disiplin. Yayasan Kalam dan Teater Utan Kayu adalah sayap artistik KUK.

KUK pernah terlibat dalam mengorganisir acara berskala internasional, yang meliputi International Puppetry Festival Jakarta (2006), Slingshort Film Festival (2006), dan Biennale Sastra Internasional (2009). Untuk mengakomodasi perluasan kegiatannya, pendiri dan manajer kemudian berinisiatif untuk membangun kompleks Komunitas Salihara di bawah Yayasan Utan Kayu pada tahun 2008, yang terdiri dari black box, galeri, perpustakaan, wisma, dan toko buku. Setelah itu nama yayasan ini kemudian menjadi populer. 

Komunitas Salihara ini memiliki visi untuk memelihara kebebasan berpikir dan berekspresi, menghormati inovasi dan keragaman, dan menyebarkan apresiasi seni serta kegiatan intelektual. Visi dipecah dalam empat misi:

  1. Untuk memfasilitasi penciptaan seni berkualitas tinggi dan produk intelektual dengan penghargaan khusus bagi kebaruan dan pluralitas,
  2. Untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni dan berpikir,
  3. Mengupayakan perluasan kebebasan berpikir dan berekspresi, dan
  4. Untuk bekerja dalam hubungan timbal balik dalam arti yang luas, dengan lembaga-lembaga dalam dan luar negeri, berdasarkan prinsip kesetaraan dan akuntabilitas.

Komunitas Salihara telah menyelenggarakan beberapa festival nasional dan internasional, menjadi tuan rumah seniman lokal dan asing di semua genre seni, seni visual, teater, musik dan tari. Komunitas Salihara berada di Jalan Salihara No. 16, Pasar Minggu Jakarta Selatan.