Tapas Tanah, Rumah

Berasal dari pengaruh pendatang dari Bekasi, Jawa Barat. Bahan-bahan untuk membuat rumah didominasi oleh bambu, yaitu bambu betung (tidak seberapa kuat, paling murah, digunakan untuk rangka atap atau tiang), bambu kasal (cukup kuat dan lebih murah), bambu kasal hitam (jenis terkuat dan mahal). Atap dibuat dari daun nipah dan diperkuat dengan ikatan tusuk silang dari serat tumbuhan (wowo). Daya tahan rumah tapas hanya sekitar 10 tahun sedang rumah panggung dapat mencapai tiga generasi.

Pembuatan Rumah Tapas: Dimulai dengan menentukan lokasi, yaitu yang dekat dengan air. Untuk menghindari genangan air pasang, tanah ditinggikan dengan lumpur hitam yang digali di pinggir Sungai Belencongo Sebelum penimbunan, bidang tanah pijakan rumah diberi bedek. Setelah kering, tanah lumpur ditekan dan diratakan dengan sebatang kayu, bambu, juga dengan kaki sehingga sarna tinggi dengan bedek.

Tahap berikutnya mendirikan tiang utama dengan ditanam sedalam 60-80cm dari permukaan tanah yang ditinggikan. Kemudian di atasnya dipasang bilah bambu berbentuk saling bersilang dengan jarak 30 cm sebagai rangka atap. Selanjutnya, rangka itu diberi dinding bilik (anyaman bambu) dan atap daun nipah.

Lantai rumah berupa timbunan lumpur yang telah kering, diratakan dengan taburan pasir untuk mencegah kelembaban. Selanjutnya bagian dalam rumah dibagi menjadi berbagai ruang seperti ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Kamar mandi dan cuci berupa bangunan tak beratap, berdinding sebatas leher orang dewasa, dan dibuat bersebelahan dengan dinding belakang dapur. Jamban dibangun tersendiri di atas sungai dengan kolam limbah rumah tangga sejauh 1 m di belakang kamar mandi. Ruang tamu biasanya dilengkapi dengan bale-bale (tempat duduk) dari bambu yang juga digunakan untuk tempat tidur tamu yang menginap. Upacara selamatan dalam pembuatan rumah jarang dilakukan karena umumnya pemilik tergolong dalam ekonomi lemah.