Tapa, Kiai

Setelah Sultan Banten Zainul Arifin turun tahta, Kiai Tapa dan pengikutnya mengajukan Ratu Bagus Buang untuk menggantikannya, tapi mendapat rintangan dari Kompeni yang turut serta dalam urusan Sultan Banten. Hal ini membuat rakyat marah dan melakukan pemberontakan. Ia beserta Tubagus Angke dan pengikutnya mengundurkan diri ke pedalaman, kemudian ke daerah Jasingan dan Ciampea. Pasukan Banten menyerang pasukan Belanda yang bertahan di sana. Belanda mengalami kekalahan dan dengan bantuan pasukan dari Tangerang kemudian menyerang pasukan-pasukan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Pasukan-pasukan Banten berkumpul dan bertahan di daerah Cibeteung dekat Kahuripan dan Belanda kalah lagi. Kemudian Kiai Tapa maju ke Gunung Munara, menyeberang Kali Cisadane dekat Parung batang kemudian menuju Batavia melalui Bogor dan Tangerang.

Kompeni di dalam benteng mulai panik mendengar kabar penyerangan dari pasukan Banten ini lalu memperkuat pertahanannya di Tangerang dan Tanah Abang. Kiai Tapa berbelok ke selatan menyerang pertahanan Belanda di Jampang. Begitulah seterusnya Kiai Tapa dan pasukannya menyerang setiap daerah yang dilaluinya dan selalu menang. Tanggal 21 Agustus 1753, Kiai Tapa dan pasukannya melewati Bandung, kemudian menuju Parakanmuncang (dengan bantuan Tumenggung Wiratanubaja). Di sini pasukan Belanda menghadangnya namun dapat dikalahkan. Kiai Tapa dan pasukannya terus maju hingga mereka kekurangan bahan-bahan dan prajurit-prajuritnya mengalami banyak penderitaan. Keadaan ini memaksakannya dengan pasukannya mengundurkan diri ke arah pedalaman Gunung Galunggung dan tidak diketahui oleh Belanda. Mulai dari kejadian di daerah ini Kiai Tapa menerobos ke arah timur untuk menggabungkan dm dengan pergerakan-pergerakan yang anti Belanda di daerah Banyumas, kabarnya tidak terdengar lagi. Kemungkinan besar Kiai Tapa di zaman Pangeran Diponegoro bergerak, tentunya dalam keadaan lanjut usia. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di daerah Tomang, Jakarta.