Tanjung Priok, Peristiwa

Teror yang melanda Jakarta tanggal 12 September 1984. Peristiwa itu telah mengakibatkan 9 orang meninggal termasuk pemimpin kerusuhan Amir Boo, 3 mobil sedan, 3 truk, 3 skuter, 3 sepeda motor, dan 3 rumah termasuk apotek terbakar. Dari hasil sidang Pengadilan Negeri Jakarta tahun 1984, 17 orang dijatuhi hukuman. Kerusuhan tersebut dilakukan oleh orang-orang yang terhasut ceramah menyesatkan, yang menyalahgunakan ajaran agama untuk kepentingan tertentu. Peristiwa tersebut dilatarbelakangi oleh adanya pamflet yang isinya menghasut massa dengan isu SARA. Aparat keamanan lalu menghimbau agar poster-poster itu dihapus, namun tidak dihiraukan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, seorang petugas keamanan menutupi poster itu dengan cat warna hitam. Namun salah seorang petugas yang sedang menjalankan tugas dihadang dan dipukuli oleh sekelompok orang.

Sehubungan dengan penganiayaan tersebut, aparat keamanan menangkap empat orang pelaku untuk diusut. Penangkapan itu ternyata menyulut reaksi sekelompok orang untuk menuntut pembebasan mereka. Amir Boo, Saripin Maloko, S.H. dan M. Nasir yang memberi ceramah di Masjid Rawa Badak, Tanjung Priok, menghasut para pengunjung untuk menuntut pembebasan kawan-kawan mereka yang ditahan. Amir Boo mengancam akan mengadakan pembunuhan dan pengrusakan apabila keempat kawannya tidak dibebaskan. Dengan membawa senjata clurit, parang, linggis dan bensin, massa yang terhasut bergerak untuk membebaskan kawannya.