Tanah Jawi, Babad

Seperti juga sumbernya yang sekarang ini Babad Tanah Jawi disusun sesudah tahun 1680. Naskah prosa dikerjakan oleh Raden Ngabehi Kertapraja di Surakarta, namun kemudian diperbaiki dan dilengkapi sampai dengan tahun 1742 oleh C.F Winter (1859) atas dasar sebuah naskah lain (Codex B, Collectie KITLV). Meinsma memakai naskah Codex B bila naskah Kertapraja dianggap kurang jelas.

Babad Tanah Jawi dapat dianggap sebagai kronik resmi Kerajaan Mataram, yang mencapai puncaknya pada pemerintahan
Sultan Agung (1613-1645). Beberapa bagian bercorak mistis, genealogis buatan raja-raja dahulu kala, dongeng (seperti, pernikahan Senopati dan Ratu Kidul) dan cerita-cerita tentang berbagai kejadian historis. Babad ini memakai naskah-naskah yang lebih tua yang mungkin sudah direvisi beberapa kali sesuai "keperluan" zamannya, khususnya untuk melegitimasikan wangsa yang sedang berkuasa. Bukan hanya itu, dalam Babad Tanah Jawi banyak kekalahan-kekalahan yang diubah pandangannya menjadi rencana yang berwawasan jauh ke depan. Misalnya kekalahan Sultan Agung terhadap Batavia yang kemudian mengundurkan diri dianggap sebagai sikap yang bijaksana dengan cerita bahwa Sultan Agung menyuruh tentaranya untuk mengundurkan diri dari Batavia, sebab ia hanya mau memberi pelajaran kepada Belanda, karena nanti mereka akan membantu cucunya waktu terpaksa melarikan diri dari Mataram. Dibalik cerita Babad Tanah Jawi pun banyak terdapat peristiwa historis misalnya pembelaan-pembelaan Fort Holandia oleh Sersan Hans Madelijn pada serangan malam tanggal 20 Oktober 1629.