Tanah Abang, Pasar

Merupakan pusat grosir tekstil di Jakarta. Pasar yang dibangun dan dibuka oleh Vinck tahun 1735 di Tanah Abang, ini berbentuk modern, bertingkat, dengan fasilitas memadai. Bersama dengan Pasar Senen merupakan pasar terpenting dalam sejarah Jakarta selama lebih dari 250 tahun (1735). Menempati areal seluas 2,6 hektar dengan luas bangunan 11.154 m. Tempatnya strategis dan luas, bangunannya permanen, mampu melayaniseluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya, serta barang dagangannya pun lengkap. Di Pasar Tanah Abang (Tanah Abang Market) dijual berbagai pakaian jadi seperti celana, baju kebaya, sarung, dan ikat kepala. Selain itu juga menyediakan bahan-bahan sandang dari India, Persia, Cina, dan Jepang. Tahun 1740 terjadi Peristiwa Chineezenmoord, pembantaian orang-orang China, perusakan harta benda, termasuk Pasar Tanah Abang diporak-porandakan dan dibakar.

Tahun 1926 pemerintah membongkar Pasar Tanah Abang, diganti bangunan permanen berupa tiga los panjang dari tembok dan papan serta beratap genteng, dengan kantor pasarnya nangkring di atas bangunan pasar mirip kandang burung. Pelataran parkir di depan pasar menjadi tempat parkir kuda-kuda penarik delman dan gerobak. Di situ tersedia kobakan air yang cukup besar, dan di seberang jalan ada toko yang khusus menjual dedak makanan kuda. Beberapa puluh meter dari toko dedak ada sebuah gang yang dikenal sebagai Gang Madat, tempat lokalisasi para pemadat.

Pada zaman pendudukan Jepang, pasar ini hampir tidak berfungsi, dan menjadi tempat para gelandangan. Tahun 1973, Pasar Tanah Abang diremajakan, diganti dengan 4 bangunan berlantai empat, dan sudah mengalami dua kali kebakaran, pertama tanggal 30 Desember 1978, Blok A di lantai tiga dan kedua menimpa Blok B tanggal 13 Agustus 1979. Pada tahun 1975 tercatat kiosnya ada 4.351 buah dengan 3.016 pedagang.

 

 

PASAR TANAH ABANG

Pasar Tanah Abang dulunya disebut dengan Pasar Tenabang. Merupakan pusat grosir tekstil terbesar di Jakarta. Pasar yang dibangun dan dibuka oleh Vinck tahun 1735 di Tanah Abang, ini berbentuk modern, bertingkat, dengan fasilitas memadai. Bersama dengan Pasar Senen merupakan pasar terpenting dalam sejarah Jakarta selama lebih dari 250 tahun (1735). Sebelum menjadi sebuah pasar, pada tahun 1648 Phoa Beng Gam membuka wilayah Tenabang. Kontur tanah di wilayah ini tidak datar, ada bagian tanah yang rendah dan ada bagian tanah yang menyerupai bukit sehingga disebut bukit Tenabang atau Tenabang Bukit. Pasar Tenabang berada di wilayah bukit, wilayah yang tanahnya rendah berupa rawa. Di wilayah bukit, sempat dijadikan tempat penggembalaan dan jual beli kambing. Pasar tersebut pernah dikenal sebagai pasar kambing.

Menempati areal seluas 2,6 hektar dengan luas bangunan 11.154 m. Tempatnya strategis dan luas, bangunannya permanen, mampu melayaniseluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya, serta barang dagangannya pun lengkap. Di Pasar Tanah Abang (Tanah Abang Market) dijual berbagai pakaian jadi seperti celana, baju kebaya, sarung, dan ikat kepala. Selain itu juga menyediakan bahan-bahan sandang dari India, Persia, Cina, dan Jepang. Tahun 1740 terjadi Peristiwa Chineezenmoord, pembantaian orang-orang China, perusakan harta benda, termasuk Pasar Tanah Abang diporak-porandakan dan dibakar.

Tahun 1926 pemerintah membongkar Pasar Tanah Abang, diganti bangunan permanen berupa tiga los panjang dari tembok dan papan serta beratap genteng, dengan kantor pasarnya nangkring di atas bangunan pasar mirip kandang burung. Pelataran parkir di depan pasar menjadi tempat parkir kuda-kuda penarik delman dan gerobak. Di situ tersedia kobakan air yang cukup besar, dan di seberang jalan ada toko yang khusus menjual dedak makanan kuda. Beberapa puluh meter dari toko dedak ada sebuah gang yang dikenal sebagai Gang Madat, tempat lokalisasi para pemadat.

Pada zaman pendudukan Jepang, pasar ini hampir tidak berfungsi, dan menjadi tempat para gelandangan. Tahun 1973, Pasar Tanah Abang diremajakan, diganti dengan 4 bangunan berlantai empat, dan sudah mengalami dua kali kebakaran, pertama tanggal 30 Desember 1978, Blok A di lantai tiga dan kedua menimpa Blok B tanggal 13 Agustus 1979. Pada tahun 1975 tercatat kiosnya ada 4.351 buah dengan 3.016 pedagang. Setelah beberapa kali perbaikan, pada akhir 1990-an, mulai dibangun pasar modern berlantai banyak dan terdiri dari tujuh blok yaitu A, B, C, D, E, F, dan G. Sementara itu, pasar kambing yang pernah ada di pasar ini dipindahkan ke Jalan Sabeni sekitar 500 meter dari Pasar Tanah Abang.