Tan Malaka

Tokoh politik kontroversial dalam sejarah Indonesia modern, yang bernama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia tokoh komunis tahun 1920-an yang menolak keputusan rapat PKI di Prambanan (Desember 1925) untuk melancarkan revolusi atau pemberontakan. Lahir di Pandan Gading, Sumatera Barat. Ia masuk sekolah dasar di Suluki (1902) lalu melanjutkan ke sekolah guru (Kweekschool) di Fort de Kock (dekat Bukittinggi). Oleh seseorang pengajar, G.H. Horensma, ia didesak untuk melanjutkan pendidikan di negeri Belanda. Pada tahun 1912 ia berangkat ke Belanda bersama keluarga Horensma.

Di Belanda, ia masuk Sekolah Guru Haarlem, dan memperoleh dukungan moral maupun materi dari keluarga Horensma. Ia menonjol dalam ilmu pasti, sehingga dipuji para gurunya, yang umumnya mengira orang-orang Hindia Belanda tidak mampu mengerti soal ilmu pasti. Dalam perkembangannya, Malaka kagum pada disiplin organisasi kemiliteran Jerman. Walaupun dengan latar belakang pendidikan guru ia mendalami soal kemiliteran di Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, Ia membaca banyak buku kemiliteran. Bersamaan dengan Revolusi Rusia (1917) minatnya terhadap buah pikiran Marx dan Engels semakin besar. Ia kerap mengikuti berbagai pembicaraan politik kaum kiri di Amsterdam, juga diskusi terbuka antara Sneevliet dan Suwardi tentang "Kecenderungan Nasionalis dan Sosialis dalam Pergerakan Nasional Hindia" di Amsterdam (1919). Tan Malaka kembali ke Indonesia pada November 1919.

Di Indonesia, ia tetap mengadakan hubungan surat-menyurat dengan para rekannya di Belanda. Mulai 1920-an ia menulis banyak artikel. Ia juga menulis brosur berjudul Sovyet atau Parlemen, pandangannya tentang kedua bentuk pemerintahan itu, di majalah Soeara Ra'Jat. Ketika ISDV (Perserikatan Demokrasi Sosial Hindia) ingin berganti nama (1920), Malaka mengusulkan "Partai Nasional Revolusioner Indonesia" sebagai nama pengganti. Usulnya ditolak oleh Semaun yang tetap menginginkan "Perserikatan Komunis" sebagai pengganti ISDV.

Tahun 1921, ia terpilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) dan merupakan tokoh terpenting partai ini sejak kepergian Semaun ke Rusia. Ia mengembangkan cabang PKI di daerah dan mengecam pemerintahan kolonial yang menindas para buruh. Ia ditangkap karena terlibat dalam aksi pemogokan para buruh perkebunan (1922). Malaka lalu mengajukan permohonan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk mengasingkan diri ke Belanda. Tidak lama di Belanda ia pergi ke Moskwa, Rusia (1922). Pada tahun 1924 ia mendapat tugas dari Komintem untuk menulis buku mengenai Indonesia. Hasilnya buku berjudul Indonezija: ejo mesto na proboezjdajoesjtjemsja Vostoke (Indonesia dan empatinya di timur yang sedang bangkit).

Antara 1942-1943, ia menulis buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang menyuguhkan cara berpikir baru untuk memerangi cara berpikir lama (dipengaruhi tahayul atau mistik yang menyebabkan orang menyerah secara total kepada alam). Pemikiran dialektisnya terlihat dari sikapnya yang mempertentangkan golongan tua (Sukarno-Hatta) dengan golongan muda (pemuda pejuang). Ia sinis terhadap golongan tua yang mau bekerja sama dengan penjajah, sekaligus ujung tombak perjuangan. Pada Maret 1946 Tan Malaka ditangkap dengan tuduhan menggerakkan rakyat menentang Persetujuan Linggarjati antara Belanda dan Indonesia (Kabinet Sjahrir). Surat penangkapannya tidak ditandatangani oleh Presiden Soekarno, sehingga diduga penangkapan itu merupakan gagasan Sjahrir dan rekan separtainya, terutama Amir Sjarifuddin. Sewaktu ia dalam tahanan, terjadi penculikan atas Sutan Sjahrir oleh perwira dua militer bernama Abdul Kadir Yusuf yang bersimpati terhadap Malaka, sedang ia sendiri tidak tahu apa-apa tentang peristiwa itu.

Tidak lama kemudian terjadi Peristiwa 3 Juli 1946, yakni percobaan kudeta terhadap pemerintahan, dimana ia dituduh terlibat. Tetapi pengadilan menyatakan ia tidak bersalah. Malaka dibebaskan pada saat revolusi Indonesia sedang dalam suasana kritis, saat terjadi saling mencurigai antara kelompok yang bertentangan. Pada saat itu ia sempat mendirikan Partai Murba dan ikut bergerilya. Pada Februari 1949, ia tewas tertembak tentara Republik Indonesia di wilayah Jawa Timur. Hingga kini kuburnya tidak diketahui.