Tambora

Kawasan Tambora dewasa ini menjadi sebuah kelurahan, Kelurahan Tambora, termasuk wilayah Kec. yang sama, Kotamadya Jakarta Barat. Nama Tambora dari kawasan itu mungkin diberikan oleh orang-orang yang berasal dari Pulau Sumbawa, yang pada tahun 1755 dipimpin oleh seorang kapten. Mungkin komunitas mereka, yang jumlahnya tidak begitu banyak, kurang mendapat perhatian, kalau saja tidak muncul seorang tokoh yang menimbulkan kekaguman orang-orang Belanda, yaitu Kapten Abdullah Saban. Karena menunjukkan jiwa kepemimpinan yang luar
biasa, terutama dalam pertempuran di laut, pada tahun 1794 dia diangkat menjadi Kepala Kepulauan Seribu (Hoofd over Duizend Eilanden). Pada tahun 1800 ia dianugerahi pedang kehormatan. Pada tahun 1808 oleh Daendels diangkat menjadi Liutenmant van de eerste classe bij de Hollandshe Koninglijke Marin.

Tokoh lain yang perlu dicatat, adalah Haji Mustoyib dan Ki Daeng, yang berjasa membangun Masjid Tambora. Ia adalah Orang Cina Muslim, asal Makasar, pernah tinggal beberapa lama di Bima, di kaki Gunung Tambora, Sumbawa. Karena suatu sebab, mungkin dituduh menghasut warga setempat untuk melawan penguasa, pada tahun 1755 ia dihukum penjara di Batavia, selama 5 tahun. Setelah bebas ia berniat tetap tinggal di Batavia. Sebagai tanda syukur kepada Yang Maha Kuasa, pada tahun 1761 ia membangun sebuah masjid. Untuk mengenang tempat ia ditangkap penguasa,

masjid yang dibangunnya itu diberi nama Masjid Tambora. Masjid yang dibangun Mustoyib itu merupakan inti dari keadaannya dewasa ini. Bagiannya yang terletak di pinggir sungai masih menunjukkan bentuk asalnya. Setelah mengalami beberapa kali perbaikan, pada tahun 1980 masjid itu diperbaiki lagi serta diperluas. Haji Mustoyib dimakamkan di halaman masjid tersebut. Makamnya dinaungi bangunan bertiang tembok enam buah, sampai dewasa ini masih terpelihara dengan baik.