Taman Siswa

Perguruan Nasional yang didirikan oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta, dengan nama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswo. Tingkat perguruan yang pertama kali dibuka adalah bagian Anak (Kindertuin) dan Kursus Guru. Selanjutnya Taman Siswa tersebar ke berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali Jakarta atau Betawi. Di Jakarta Gedung Perguruan Taman Siswa terletak di Vliegveldlaan (JI. Garuda) dan di Meester Cornelis (Jatinegara).

Tahun 1924, Taman Siswa dikenakan pajak rumah tangga, namun ditolak oleh Ki Hajar Dewantara. Taman Siswa di Betawi merupakan cabang dari Taman Siswa, Yogyakarta, yang pembentukannya tidak bisa lepas dari peran pimpinan Persatuan Marsudi Rukun, Angrodirjo yang berhasil menghimpun dana sebesar f 500 sebagai modal pertama. Pada awal didirikan masih terbatas pada Taman Anak (sekolah dasar kelas 1-3) dan Taman Muda (kelas 4-7). Kemudian dibuka Kursus Pengetahuan Umum dan sekolah sore yang bernama Taman Rakyat. Pada tahun 1932 dibuka Taman Dewasa yang setaraf dengan MULO dan Taman Guru (seperti Kweekschool). Juga berhasil dibentuk Taman Dewasa Raya yang setingkat HBS.

Pada tahun 1932 pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan ordonansi sekolah liar (Wilde Schoolen Ordonantie ) yang berisi bahwa pendirian sekolah partikelir termasuk Taman Siswa harus meminta izin kepada pemerintah Hindia Belanda; sebelum mengajar guru sekolah partikelir harus memiliki izin mengajar terlebih dahulu dari pemerintah. Ki Hajar Dewantara mengirim. kan surat protes kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, karena dianggap melampaui batas. Partai politik dan surat kabar yang mendukung protes itu kemudian memperjuangkannya di Volksraad, sehingga tahun 1935 ordonansi sekolah liar dihapuskan.

Landasan pokok penyelenggaraan pendidikan nasional saat ini sebagian besar dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip Taman Siswa. Bahkan Adagium Tut Wuri Handayani yang artinya "tetap mempengaruhi dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak didik untuk berjalan sendiri", menjadi semboyan resmi pada lambang Departemen Pendidikan Kebudayaan sesuai keputusan tanggal 6 September 1977. Adapun semboyan lengkapnya adalah Hing Ngarsa Sung Tulada (di depan berilah teladan) Hing Madya Mangun Karsa (di tengah ikut serta membentuk kehendak) dan Tut Wuri Handayani (di belakang tetap mempengaruhi dengan memberikan kesempatan pada anak-anak).