Taman Ismail Marzuki

Gedung pusat kesenian Jakarta, berlokasi di Jl. Cikini, yang merupakan fasilitas penyaluran kehidupan kebudayaan masyarakat maupun para seniman dan seniwati Indonesia. Bangunan TIM semula adalah kompleks hiburan, terdiri dari bioskop, kebun binatang, lapangan tenis, dan rumah-rumah makan, yang dibangun pemerintahan Hindia Belanda sebelum PD II. Taman Ismail Marzuki dibangun semasa Ali Sadikin menjabat gubernur Kepala Daerah DKI, sekalian dengan Dewan Kesenian Jakarta. Didirikan tahun 1968 oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk menampung kegiatan kesenian masyarakat serta kegiatan Dewan Kesenian Jakarta. Taman ini merupakan taman budaya yang dilengkapi dengan gedung pertunjukkan dan ruang pamer.

Sejak didirikan pada November 1968, TIM telah memiliki reputasi baik di dalam maupun di luar. Pusat Kesenian TIM terdiri dari beberapa bangunan utama seperti gedung Graha Bhakti Budaya, Teater Arena, kampus IKJ, Pusat Dokumentasi dan Arsip Sastra H.B. Jassin, galeri seni, dll. Masih didalam kompleks TIM, juga terdapat sarana pembelajaran tentang antariksa yang terdapat di Planetarium. Tempat ini menjadi tempat yang jawib dikunjungi bagi pelajar dan peneliti yang tertarik dengan ilmu-ilmu astronomi dan ruang angkasa. TIM dirikan untuk mengakomodasikan kreativitas para seniman Indonesia dengan semangat kemanusiaan dan keterbukaan. TIM berkembang pesat sebagai forum untuk mementaskan karya-karya kreatif dan inovatif dari seniman Indonesia.

Pada upacara pembukaan TIM, mantan gubernur Jakarta, Ali Sadikin, menekankan bahwa pembangunan pusat kesenian dan kebudayaan ini tidak lain dimaksudkan sebagai ajang kegiatan kesenian, pengajaran dan eksperimen kesenian berlangsung. Lebih jauh, Ali Sadikin mengingatkan bahwa TIM harus berfungsi sebagai pusat inventaris kesenian. TIM juga menjadi tempat kedudukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yang menghimpun sejumlah besar sastrawan dan seniman Indonesia masa kini. TIM berusaha menggalakkan penciptaan sekaligus mengawasinya, mengelola sebuah akademi pendidikan dan membiayai berbagai kegiatan budaya, penerbitan, dan pementasan drama modern. Taman Ismail Marzuki juga berusaha 'menyelamatkan' seni tradisi, dengan mengundang banyak rombongan kesenian daerah. Pengelolaan gedung ini diserahkan pada Lembaga Taman Ismail Marzuki, sedangkan Pemerintah DKI Jakarta hanya membina dan mengawasi serta memberikan subsidi atau bantuan keuangan secara material sesuai dengan kemampuan anggaran Daerah. Di pusat kesenian itu, masyarakat pencinta seni dapat menikmati berbagai sajian, baik seni tradisional maupun seni modern seperti musik, seni rupa, teater, tari dan film yang dibawakan oleh seniman dalam maupun luar negeri.