Taman Budaya Tionghoa, Situs Ingatan Tragedi Mei 1998

 

Alamat

Komplek Taman Mini Indonesia Indah Kav. 68, Jl. Raya Hankam, Jakarta Timur

No. Telp

021-87782910

Fax

021-87782911

Email

tamanbudayationghoa@yahoo.com

Website

http://www.taman-tionghoa.com

 

tionghoa 2Taman Budaya Tionghoa (TBT) berada di komplek Taman Mini Indonesia Indah. Taman Budaya Tionghoa merupakan simbol pengakuan eksistensi suku Tionghoa secara budaya dan politik. Keberadaan Taman Budaya Tionghoa di Taman Mini Indonesia Indah mempertegas TMII sebagai laboratorium seni dan budaya bangsa, di samping secara nyata menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang multi-etnis dan multi-ras berikut keanekaragaman seni dan budayanya. Setelah terjadinya reformasi tahun 1998, keberadaan Tionghoa mulai diterima sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebhinekaan masyarakat Indonesia. Pada saat itu terbentuklah Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) yang bertujuan menolong korban kerusuhan dan berjuang untuk memperoleh hak-hak sipil sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang sah, antara lain mendapatkan status sebagai salah satu suku dalam keluarga besar Indonesia.

Dimulai pada tahun 2004, melalui Yayasan Harapan Kita yang menyediakan lahan seluas 4,5 hektar kepada Masyarakat Tionghoa Indonesia untuk membangun Taman Budaya Tionghoa di TMII, dan dilanjutkan pembangunan sarana fisik pada tanggal 8 November 2006 sekaligus peresmian pintu gerbang oleh Ketua Yayasan Harapan Kita yang juga merupakan Presiden RI kedua, Bpk. H.M. Soeharto. Pembangunan TBT TMII ini didasari oleh keselarasan dan keseimbangan alam. Dengan menggunakan filosofi tua yang dianut oleh kalangan Tionghoa, yakni memadukan unsur Yin Yang. Unsur Yin dan Yang sendiri adalah unsur keras (kasar) dan lembut (halus), misalnya ada siang harus ada malam, ada daratan harus ada lautan, ada air harus ada api, dan seterusnya. Itulah sebabnya taman ini berupa daratan dan danau buatan di bagian belakang.

Sepasang pilar yang ada di pintu gerbang, lambang jantan dan betina, menjadi penanda pertama gugus taman. Di depan pintu gerbang terdapat sepasang patung Kilin, hewan mirip singa yang dipercaya sebagai peliharaan para dewa sedangkan di belakangnya, tepat di tengah halaman, terdapat batu granit hitam berbentuk bulat sebagai citraan bola dunia. Batu seberat tiga ton itu ditopang dengan penyangga yang sekaligus sebagai pipa yang dialiri air bertekanan tinggi untuk memutar batu granit “bola dunia” itu sesuai dengan arah putaran perhitungan Fengshui.

Anjungan Taman Budaya Tionghoa saat ini dilengkapi rumah adat Tionghoa, teater kesenian, taman-taman dengan ciri khas Tionghoa, museum yang berisi berbagai  peninggalan sejarah dan budaya Tionghoa di Indonesia, serta perkampungan kecil Tionghoa lengkap dengan segala pernak-pernik “kampung pecinan”. Selain itu, terdapat juga fasilitas lain untuk menambah kesan penggambaran secara lengkap kebudayaan Tionghoa Indonesia, seperti gazebo danau, sepasang tiang naga, patung Dewi Bulan, patung Kwan Kong, dan jembatan batu Sampek Eng Tay. Berbagai fasilitas tersebut sejalan dengan maksud dan tujuan pembangunan Taman Budaya Tionghoa yaitu untuk memamerkan artefak, foto-foto, arsitektur, taman, dan lain-lain yang berkaitan dengan eksistensi suku Tionghoa di nusantara, dan juga mempertegas toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

                  tionghoa 3tionghoa 4                                                                               tionghoa 5

Terdapat dua museum yang berada di Taman Budaya Tionghoa, yaitu Museum Hakka Indonesia (MHI) dan Museum Cheng Ho atau Museum Peranakan.   Museum tersebut diberi nama dari pelaut muslim legendaris dari Tiongkok yang menjelajahi dunia, termasuk ke Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia yang dilewati oleh Cheng Ho bersama armadanya antara lain Jakarta, Palembang, Deli, Aceh, Semarang, Surabaya, Tuban, dan Cirebon. Gedung museum merupakan sumbangan dari salah satu warga Tionghoa di Sentiur, Kalimantan Timur, Bapak H. M. Yos Sutomo. Di dalam Museum Cheng Ho, terdapat foto-foto dan sejarah singkat para tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari marga Tionghoa. Mereka antara lain Oei Tiang Tjoei atau Permana (1893 – 1977) dan Yap Tjwan Bing (1910 – 1988) yang sama-sama berperan dalam persiapan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945 sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Foto tokoh Tionghoa Indonesia yang berasal dari kalangan militer dan kini di masa pensiunnya aktif mengurus Taman Budaya, Him Tek Ji atau Brigjen TNI Purnawiran Tedy Jusuf juga terdapat di sana. Dari kalangan akademisi, ada Profesor Tjan Tjoe Siem (1909 -1978) dari keluarga Tionghoa Muslim sebagai profesor Jawa Modern dan Dekan FSUI – sekarang FIB UI – dari tahun 1964 hingga 1968. Untuk penulis bermarga Tionghoa, ada Kho Ping Hoo atau Asmaraman Sukowati (1926 – 1994).

Selain sejarah, Museum Cheng Ho juga menyimpan foto dan koleksi sejarah budaya antara lain sepasang barongsai, Martavan atau guci besar dari keramik, batik peranakan, upacara pernikahan (Chio Tau), dan buku bacaan tentang yang berkaitan dengan marga Tionghoa di Indonesia. Hal menarik dari bangunan Museum Cheng Ho ini adalah bangunannya yang tetap sejuk dan terang meskipun lampu dan pendingin ruangan atau AC tidak dinyalakan. Langit-langit dan bangunan atap yang tinggi ternyata menjadi faktor penyebab bangunan tersebut memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik serta ramah lingkungan.

Jika Museum Cheng Ho berbentuk rumah gaya peranakan, maka MHI berbentuk seperti benteng dan atap terbuka seperti stadion olahraga. MHI memang mengadopsi bentuk bangunan Tulou di pegunungan Fujian yang merupakan tempat tinggal marga Hakka di Tiongkok. Wajar jika MHI dibangun seperti bentuk Tulou. Para pendiri dan donator MHI adalah marga Tionghoa di Indonesia yang mayoritas berasal dari keturunan marga Hakka Yongding. Ketika memasuki MHI, pengunjung akan melihat bangunan yang tersusun atas 3 lantai. Umumnya Tulou memiliki 3 lantai. Fungsi Tulou adalah sebagai tempat tinggal yang bahkan bisa menampung hingga 100 keluarga. Lantai 1 untuk fasilitas umum seperti MCK dan sekolah, lantai 2 untuk tempat persediaan bahan pangan sehingga pasokan makanan tetap tersedia jika musim dingin tiba, dan lantai 3 tempat tinggal masing-masing keluarga. Di TMII, lantai 1 MHI berfungsi sebagai ruang rapat dan pertemuan yang bisa disewa masyarakat umum dan toko oleh-oleh. Lantai 2 terdapat sejarah marga Tionghoa di Indonesia. Oleh karena itu, lantai 2 disebut khusus sebagai Museum Tionghoa Indonesia (MTI) karena sejarah marga Hakka di Indonesia sangat berkaitan erat dengan sejarah masyarakat peranakan Tionghoa di Indonesia secara keseluruhan. Dan di lantai 3 terdapat sejarah marga Hakka di Indonesia yang sebagian besar berasal dari daerah Yongding di Indonesia. Marga Hakka di Indonesia banyak yang berkecimpung dalam industri obat-obatan di Indonesia. Merek obat dan ramuan kesehatan yang terkenal antara lain Pil Sehat, obat batuk dan influenza Ultraflu, permen pelega tenggorokan Milton, larutan pereda panas dalam Lasegar dan Cap Badak. Di bidang properti, ada pemilik Summarecon Gading. Di bidang pendidikan, terdapat Panji Wicaksana, 90 tahun, dosen Trisakti dan Atmajaya. Kedua museum tersebut menjadi sarana yang tepat sebagai media perekat budaya Tionghoa di Indonesia.