Taksi

Satu jenis angkutan darat, berupa mobil dengan suatu tarif khusus. Kemunculan armada taksi di Batavia bersamaan dengan semakin banyaknya perusahaan-perusahaan persewaan mobil. Pada masa pemerintah Kotapraja Batavia telah mengatur operasi taksi dengan menentukan beberapa tempat yang dapat digunakan sebagai pangkalannya. Tempat-tempat itu antara lain: Kota, meliputi Stadhuisplein, Kalibesar West (Kali Besar Barat), dan Lapangan Glodok; Weltevreden, meliputi dekat Harmoni, Sluiburg (pintu air), Stasiun Koningsplein (Medan Merdeka), Deca Park (Medan Merdeka), Gondangdia Lama, Entree Gondangdia, Kebon Binatang Cikini, Krekot, Pasar Baru, dan Pasar Senen. Orang-orang yang akan menyewa atau mentaksikan mobilnya harus mengajukan permohonan tertulis kepada walikota dan Kepala Polisi.

Pada masa 1900-an tarif maksimum untuk mobil sewaan yang dapat memuat 5 orang adalah 30 sen untuk satu kilometernya, atau 10 sen untuk tiap satu menitnya. Hal tersebut merupakan tarif di siang hari, yang berlangsung dari pukul 06.00 sampai pukul 23.00. Pembayaran minimumnya adalah 50 sen. Sedangkan untuk pemakaian di waktu malam hari (23.00 - 06.00) tarifnya bisa ditawar. Biasanya tarif malam lebih mahal 50% dibanding siang hari, dengan pembayaran minimumnya F. 1,-. Tarif-tarif di atas dinaikkan 25% untuk perjalanan dari atau ke Tanjung Priok. Apabila harus menunggu, penumpang membayar 5 sen untuk satu menit waktu tunggu Khusus bagi sopir taksi terdapat peraturan khusus dari pihak Kotapraja, yaitu melarang para sopir merokok saat bertugas. Disamping itu terdapat taksi tambangan. Pada mulanya kata tambangan berarti sewa. Taksi tambangan berpangkalan di Harmoni, Gondangdia, dan Mangga Besar. Kini perusahaan angkutan taksi berkembang sangat pesat.