Tahi Bonar Simatupang

Cendekiawan, pemikir, pemuka gereja, dan mantan Kepala staf Angkatan Perang Indonesia. Akrab dipanggil Pak Sim, lahir di Sidikalang, Dairi, Sumatra Utara, 28 Januari 1920 dan meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990. Ayahnya, Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, adalah intelektual yang bekerja di jawatan Pos dan Telegraf dan pendiri Persatuan Kristen Indonesia, yang kemudian jadi Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Setamat dari MULO di Tarutung, bersama kakaknya melanjutkan sekolah di Jakarta (1937). Setamat dari AMS awal 1942, diterima di kelas zeni Koninklijke Militaire Academy (KMA). Pendidikan akademi yang baru berjalan beberapa bulan terhenti dengan masuknya Jepang. Ia bersama teman-temannya kemudian ditempatkan Jepang di Resimen Pertama Jakarta dengan pangkat calon perwira. Di situ ia berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Sutan Sjahrir dan Ali Budiardjo, lalu mulai aktif dalam diskusi-diskusi tentang makna perjuangan dan kemerdekaan.

Selama revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, bersama Jenderal Sudirman memimpin tentara bergerilya di Jawa Tengah, yang lalu diabadikannya dalam buku Laporan dari Banaran (1980). Tahun 1949, mewakili Angkatan Bersenjata dalam delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar. Misi utamanya adalah mendesak Belanda membubarkan KNIL serta mengukuhkan TNI sebagai kekuatan inti Angkatan Perang RI. Tidak lama kemudian, dengan meninggalnya Jenderal Sudirman, ia dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) RI. Usai perjuangan kemerdekaan yang dinamakannya sebagai "loncatan pertama", pemikiran utama Simatupang, lalu menyusun konsep memfungsikan ABRI dalam "loncatan kedua" sebagai dinamisator pembangunan di masa damaio Konsep inilah yang kemudian diperkenalkan oleh AH Nasution dengan nama Dwifungsi ABRI.

Usaha rasionalisasi dan profesionalisasi ABRI yang dilaksanakan TB Simatupang-dengan tujuan meningkatkan mutu tentara-mengundang kritik para politikus yang didukung Sukamo. Perbedaan pendapat yang tajam antara Simatupang dan Bung Karno, yang dipanas-panaskan oleh kaum politikus, berakhir dengan dihapuskannya jabatan KSAP (1954) dan ditunjuknya Simatupang sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan. Sebelum itu ia ditawari jabatan duta besar tetapi ditolaknya. Ia memanfaatkan waktunya selama lima tahun sesudah itu dengan mengajar di Sekolah Staf Angkatan Darat dan di Akademi Hukum Militer. Sebagian bahan pelajaran itu dituliskannya kembali dalam buku berjudul Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981).

Pada 21 Juli 1959, dalam usia 39 tahun, mengundurkan diri dari jabatan KSAP, sejak itu menjadi ketua umum Dewan Gereja Indonesia. Ia pun pernah mengetuai Dewan Gereja se-Asia dan Dewan Gereja Sedunia. Ketika Dr. A.M. Kadarman SJ melontarkan gagasan mendirikan sebuah sekolah manajemen bagi generasi muda Indonesia yang didukungnya dan kemudian diresmikan 3 Juli 1967 sebagai Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (YPPM). Bertindak sebagai pendiri adalah Profesor Bahder Djohan mewakili golongan Islam, Dr. A.M. Tambunan mewakili golongan Kristen, dan I.J. Kasimo mewakili golongan Katolik. Simatupang lalu menjabat ketua yayasan yang membawahkan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM).

Ia memperoleh gelar doktor honoris cau sa dari Universitas Tulsa, AS untuk pemikiran-pemikiran ilmiahnya (1969). Karya-karyanya yang diterbitkan antara lain Soal-soal Politik Militer di Indonesia (1956), Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969), Laporan dari Banaran (1980), Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun (1980), Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981), Iman Kristen dan Pancasila (1984), Keprihatinan dan Tekad; Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya (1985), dan Dari Revolusi ke Pembangunan (1987). Untuk mengenang jasanya, sekelompok cendekiawan menerbitkan sebuah buku memoar dengan judul Saya Orang yang Berhutang (1990).