Sumadi

Lahir di Sibolga, 27 September 1925. Jabatan Direktur Jendral, jenjang tertinggi dalam karier seorang pegawai negeri, ia capai dengan penuh liku dan jalan panjang. Selama dua puluh tujuh tahun, berawal ketika ia untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di RRI Studio Jakarta sebagai seorang penyiar di tahun 1946 sampai ia memangku jabatan Direktur Jenderal Penerangan Umum Departemen Penerangan RI di tahun 1973.

Terjun menjadi penyiar setelah menamatkan SMA/B 1946 di Jakarta, sebagai seorang pemuda dengan semangat membara untuk ikut serta secara aktif dalam perjuangan menegakkan kemerdekaan bangsa yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Karena itu ketika RRI Jakarta ditutup pada awal 1948, ia menuju daerah perjuangan di Plumbon (Cirebon) untuk kemudian sampai ke Yogyakarta sebagai jantung Republik. Di sini ia ikut dalam siaran gerilya RRI (yang kemudian dipusatkan di Balong, Jawa Tengah) sebagai penunjang perjuangan fisik yang dilancarkan oleh kesatuan-kesatuan laskar gerilya. Menjelang pengakuan kedaulatan RI, 29 Desember 1949, ia termasuk di antara team RRI yang ditugaskan untuk kembali ke Jakarta guna memulai lagi siaran RRI menggantikan siaran Radio Omroep In Overgangstijd (ROIO, Belanda). Sejak saat itu ia terus menerus bertugas di RRI Jakarta, sampai ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pelajaran di Fakultas Ekonomi' Universitas Sydney, Australia, sebagai realisasi Rencana Kolombo tahap 1. Di sinilah ia memperoleh ijazah Sarjana Ekonomi (Master of Economics) di tahun 1958. Selesai pendidikan, ia kembali ke RRI Jakarta untuk berkenalan dengan seorang gadis remaja, yang sehari-hari bekerja sebagai penyiar di RRI Studio Medan. Nama gadis remaja ini Rohani, dengan nama panggilan Ani, yang kemudian ternyata ditakdirkan untuk menjadi pendamping dalam kehidupan rumah tangganya.

Sumadi masuk ke TVRI sejak 1 Juli 1964, pertama kali menjabat Kepala Dinas Administrasi Komersial dan Perbendaharaan (kemudian berubah menjadi Dinas Umum). Terhitung 1 Januari 1968, ia diangkat menjadi Direktur TVRI menggantikan M. Arief. Jabatan ini dipangkunya sampai 30 September 1971, saat mana ia diangkat menjadi Direktur Penerangan Luar Negeri Deppen RI merangkap Asisten Menteri Penerangan dalam Team Ahli Bidang Ekuin terhitung sejak 12 Mei 1973. Dimulai pada bulan Desember 1966, ia tampil di TVRI secara tetap sekali sebulan sebagai penyelenggara dan moderator acara Forum Ekonomi. Melalui acara ini, ia menampilkan teknokrat-teknokrat dari team Ahli Ekonomi Presiden RI, antara lain Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Emil Salim dan Prof. Dr. Ali Wardhana (kesemua ini belum menjabat Menteri pada waktu itu). Walau acara ini berbobot ilmiah, tetapi dengan gaya dan metodenya yang khas, ia berhasil mengantar acara ini bertahun-tahun lamanya secara menarik, karena dapat dipahami oleh masyarakat banyak.. Tapi dengan kesibukan-kesibukannya dalam tugas-tugas yang lebih besar, sebagai Dirjen Penerangan Umum (1973) dan kemudian Dirjen RadioTelevisi- Film (1975) ia tidak dapat lagi melanjutkan acara ini dan diserahkan pelaksanaannya kepada tenaga-tenaga muda di TVRI. Tetapi ia berkeinginan, suatu waktu kelak, apabila ia sudah dipensiunkan dari kesibukan-kesibukan yang sangat menyita waktu itu, ia akan kembali tampil di TVRI dalam suatu acara khusus. Ia mengharapkan bahwa acara ini nantinya dapat lebih menarik dan merupakan suatu kejutan bagi penonton.

Di samping tugas sehari-hari sebagai Direktur Jenderal RTF Departemen Penerangan RI, secara ex officio ia juga menjabat Sekretaris Jenderal Dewan Film Nasional merangkap Wakil Ketua Dewan Harian. Sejak 1979 ia terpilih sebagai Presiden ABU (Asia-Pasific Broadcasting Union), dan sejak tahun 1982 ia dipilih menjadi Ketua Komite Kerjasama ASEAN dalam bidang Kebudayaan dan Penerangan. Dengan Ibu Ani Sumadi, mereka dikaruniai tiga orang anak, Pungki, Irwan dan Dian Miranda.