Ruth Sahanaya

Penyanyi pop, lahir di Bandung, 1 September 1966, hadir di belantika musik Tanah Air di paruh kedua era 1980-an. Ia menawarkan warna suara lain yang terbukti diterima publik, yang saat itu didominasi suara lis Sugianto, Dian Piesesha, sampai Betharia Sonata. Lagu-lagu Ruth oleh pelaku industri musik saat itu dikategorikan sebagai pop kreatif. Lewat album pertama, Seputih Kasih (Aquarius, 1987), ia menyodorkan suara cantik berjenis mezosopran atau setengah soprano Ini adalah jenis suara perempuan yang berada di antara soprano dan contralto. Suara Ruth terdengar lebih rendah-rendah berat dibandingkan dengan soprano Jika berbicara, suara Ruth terdengar serak-serak berat.

Akan tetapi, lagu yang ia bawakan sering  merambah wilayah kekuasaan mezosopran. Ia lalu bernyanyi dengan mengerahkan tenaga atau setengah ngeden. Otot-otot leher Ruth tampak menegang. Justru dengan tabiat nyanyi seperti itulah orang kemudian mengenal karakter nyanyi seorang Ruth Sahanaya. Anak bungsu keluarga Sahanaya itu mulai bernyanyi di lingkungan gereja di Bandung. Ia menjadi juara pertama festival penyanyi pop tingkat Bandung tahun 1983, diikuti juara II pada Festival Penyanyi Pop se-Jawa Barat. Keluar dari lingkup Jawa Barat, meraih gelar juara II di ajang Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional tahun 1983. Pada tahun 1992 ia menjadi pemenang grand prix dalam Midnite Sun Song Festival di Finlandia. Tahun 1994 menikah dengan Jeffrey Daniel Waworuntu dan kemudian menjadi ibu dua anak, popularitas Ruth tidak menurun. Dalam jajak pendapat yang diadakan harian Kompas pada akhir tahun 1999, nama Ruth Sahanaya dan Broery Marantika sama-sama menempati urutan teratas untuk kategori penyanyi favorit pembaca.