Ruh

Dalam pemahaman orang Betawi, orang mati itu tidak sama dengan gedebongan pisang. Maknanya, ruh itu tetap hadir di lingkungan keluarganya. Karena itu orang Betawi lebih suka menguburkan jenazah di pekarangan rumahnya sendiri, kalau ia guru dikubur di sekitar masjid di mana ia biasa menjalankan aktivitas keagamaannya. Guru tersebut dapat dimakamkan di sebelah mimbar seperti makam Kong Ja'mirin di Masjid AL A'lam Marunda, atau di halamannya seperti Guru Mansur Jembatan Lima di Masjid Tambora, ataupun di ruang dalam masjid seperti Dato' Birru di Masjid Rawa Bangke. Orang Betawi menguburkan kerabatnya paling jauh di sekitar kampungnya sendiri. Karena itu, pantang menjual tanah pemakaman, dan jika terjadi gusur paksa, maka ada keyakinan biasanya lahan bekas pemakaman itu tidak akan berjaya dipergunakan sebagai tempat berniaga.

Ruh el kawakib adalah ruh anak yang meninggal sebelum akil baligh, atau anak yang lahir mati, atau mati dalam kandungan, atau mati keguguran. Ruh ini dipelihara sebagai anak ambar. Tradisi memelihara anak ambar juga dikenal dalam masyarakat keturunan Cina, tetapi dasar falsafahnya berbeda. Orang Cina memelihara anak ambar untuk mendapatkan hokkie, keberuntungan. Sedangkan orang Betawi memelihara anak demi menjaga keseimbangan spiritual. Anak ambar diberi nama, dan dipanggil seolah yang bersangkutan masih hidup. Sebaliknya ruh orang dewasa pantang disebut nama aslinya. Jika ruh leluhur maka panggilannya Uyut, sedangkan ruh dewasa pada umumnya dipanggil si Jenat. Uyut lelaki disebut Bapak Uyut, atau Bapak Buyut, Uyut perempuan disebut Ni Uyut.

Dalam upacara asung dahar, orang-orang mendatangi kuburan Bapak/Ni Uyut dengan membawa seperangkat makanan. Mereka yang secara teratur didatangi ruh Uyut biasanya berbakat menjadi dukun. Tetapi pola komunikasi alam gaib vis a vis manusia yang hidup bersifat timbal balik. Artinya, bukan semata alam gaib itu aktif mendatangi manusia hidup, seperti dalam kasus Uyut dan keturunannya, bahkan yang sering terjadi adalah manusia hidup itu yang melakukan kontak lebih dahulu dengan alam gaib. Misalnya dalam upacara hadirin, manusia mendatangkan jin. Dalam hadirin, jin datang meminjam raga si pemanggil. Cara memanggil jin antara lain membaca baca'an (khizib khofi) seperti berikut:

Khot-hin bat-khin
Kaslafin tihin-tihin
Ahya sarohiya lastho wahidatan
Jaidzahum
Ladzaina muhdarun
Hadhir-hadhir-hadhir
Al ajl, al ajl
As sa 'ah, as sa 'ah
La hawla wa la quwwata illa bilahil
'aliyil adzim

Pada golok berwafak juga terdapat baca'an hadirin, maka dalam bilah golok itu bersemayam mahluk jin, satu atau lebih, bahkan kadang 3000. Wafak memanggil jin juga terdapat dalam isim, yang biasanya dikenakanl diselipkan di gesper. Atau diraja', artinya tubuh orang diwafak dengan cairan mistik atau buhur. Mereka yang diraja' pada dirinya bersemayam jin. Orang Betawi menggunakan juga jasa jin untuk mengamankan sawah, empang, kebun, rumah, dan menjaga diri pribadi serta keluarga.

Berbeda dengan jin yang dianggap dapat bersikap kooperatif dengan manusia, setan dan belis (iblis) mutlak dianggap mengganggu, yang harus diusir keluar dari radius daya pengaruhnya. Pada dasarnya jin berjenis kelamin, lelaki dan perempuan. Ditilik dari sifatnya ada yang baik dan ada yang jahat. Yang dipelihara, bahkan dikawini, tentu jin baik. Jin dalam penampilannya adalah makhluk dua dimensi. Karena itu sulit dibayangkan bagaimana terjadinya kontak seksual antara manusia, makhluk tiga dimensi, dengan jin yang dua dimensi. Batas antar dimensi alam itu rumit, dalam kontak seksual manusia dengan jin yang terjadi apakah manusia masuk dalam dimensi jin, atau sebaliknya.

Postur jin seperti manusia biasa. Penampilan jin dapat juga diproyeksikan, oleh dukun, di permukaan air dalam gelas, atau kertas papier, sehingga ukurannya mengecil. Tidak dapat orang-orang yang beda umurnya terlalu jauh duduk dalam satu mahjane membahas ghaibiyah. Begitu pun dalam lingkungan keluarga, mereka yang masih di bawah umur dilarang mendengarkan pembahasan pembicaraan soal ghaibiyah. Secara individual, mereka yang mengerti agama cenderung untuk koeksistensi damai dengan jin yang menghuni rumahnya. Jarang orang Betawi mengusir jin, kecuali jin jahat yang merasuk ke dirinya. Koeksistensi damai itu wujudnya antara lain sedekahan, nyuguh, dan ngancak. Di wilayah budaya Betawi Pesisir ada upacara yang disebut sedekah laut, atau nyadran. Nyadran diadakan setelah musim Barat berakhir dan nelayan mulai sero ikan kembali. Sedangkan di Betawi Pinggir dan Udik ada upacara yang disebut ngerasul. Peserta ngerasul membaca wirid dalam rangka menguatkan dan mengisi jasad halus. Mendirikan rumah baru dengan meruntuhkan rumah lama diawali dengan upacara sedekah rata bumi. Ketika pembangunan rumah baru
sampai kepada tahap memasang kuda-kuda, akan diadakan nyuguh yang terdiri dari setandan pisang raja yang diikatkan di balok kuda-kuda, disamping mengibarkan bendera merah putih.