Rudi Hartono Kurniawan

Pebulutangkis legendaris, lahir di Surabaya, 18 Agustus 1949. Setelah menyelesaikan SMA-nya, masuk Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Menikah dengan Jane Anwar tanggal 28 Agustus 1976 dan dikaruniai dua orang anak, Christoper dan Christine. Ia lahir di tengah keluarga yang mencintai olahraga bulutangkis. Dilatih ayahnya sendiri, tampil sebagai juara bulutangkis yunior se-Indonesia pada usia 15 tahun. Pertama kali tahun 1967 memasuki gelanggang perebutan Piala Thomas dan sejak 1968 sebanyak tujuh kali berturut-turut menjuarai All England, sampai ditundukkan pemain Denmark Svend Pri, 1975. Tahun berikutnya balik unggul dari Svend Pri. Absen 1977, setahun kemudian ia tampil kembali di All England, tetapi dikalahkan Liem SKing. Dua tahun Rudy tidak bermain, sampai tampil kembali pada Kejuaraan Dunia Bulutangkis II di Jakarta dan keluar sebagai juara setelah mengalahkan Liem Swie King. Pada All England 1981 Rudy hanya mampu sampai semi final. Tahun 1982 bertarung dengan jago-jago Cina, tetapi kalah karena usia yang sudah tua dan prestasinya merosot. Dua kali Rudy dipilih SIWO/PWI sebagai olahragawan terbaik, tahun 1969 dan 1974.

Selain sebagai olahragawan, Rudy pernah diterima sebagai calon pilot Garuda. Ia juga pernah bermain dalam film Matinya Seorang Bidadari (1971) bersama Poppy Dharsono yang disutradarai oleh Wahyu Sihombing. Setelah menyelesaikan kuliahnya ia berwiraswasta dalam bisnis perusahaan susu sapi perah, penggilingan batu, pabrik shuttlecock dan impor alat-alat olahraga. Semuanya ia tinggalkan karena lebih memilih bulutangkis dan termasuk juara yang beruntung karena dapat hidup dari namanya yang besar. Berbagai hadiah datang, seperti dari DKI, Presiden Suharto, PT Astra, dan lainnya.