Roedjito

Seorang tokoh terkemuka dalam jagat seni pertunjukan Indonesia, khususnya dalam bidang skenografi. Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 21 Juni 1932 dan meninggal di Jakarta, 26 September 2003 (dan dimakamkan di kompleks Bengkel Teater di Cipayung). Bersekolah di Gombong ketika SD, melanjutkan SMP dan SMA di Bandung. Roedjito mengawali kiprahnya dalam dunia kesenian saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketika itu, ia bertemu dengan beberapa seniman, seperti sastrawan Asrul Sani, sutradara film Usmar Ismail dan pelukis Oesman Effendi. Bergaul dengan para seniman itu, ia membulatkan tekadnya meninggalkan bangku kuliah formal. Tahun 1970, ia mengenyam pendidikan di East West Centre di AS. Ia turut membidani lahirnya Jurusan Seni Rupa LPKJ (kini menjadi IKJ) bersama Oesman Effendi, Nashar dan Zaini.

Sebagai seorang skenografer pertunjukan, ia berperan besar di balik layar, baik pertunjukan teater dan tari maupun pembuatan film. Sifat dasarnya yang sederhana, namun memancarkan pikiran besar, telah mempengaruhi karya ciptaannya, dengan genre dan metode "teater miskin". Model estetika karya Roedjito mirip rancang bangun ritual, elemen-elemen religiusnya, acapkali digantikan imaji-imaji arketipe, hal-hal yang bersifat kebentukan digeser ke pola pengembangan emosional. Ragam material dibebaskan dari penjara atau beban bentuknya, tak lain demi mencapai makna yang semurni-murninya.

Perjalanannya sebagai penata artistik, dari para orang-orang terkemuka dari dunia kesenian, seperti Rendra (sejak zaman Bengkel Teater di Yogyakarta hingga di Cipayung), Sardono W. Kusumo, Retno Maruti, Gusmiati Suid, Emha Ainun Nadjib, Sutardji C. Bachri, Putu Wijaya dan N. Riantiarno, telah membawanya ke berbagai negara, baik Amerika, Eropa maupun Asia. Ia juga berada di balik sukses film-film karya Asrul Sani, Marseli dan Garin Noegroho. Roedjito juga dikenal sebagai pembuat ilustrasi, salah satunya muncul dalam buku antologi puisi Pariksit karya Goenawan Mohamad. Beberapa waktu sebelum meninggalnya, ia membukukan karya-karya lukisnya, sekaligus mempamerkannya di beberapa kota. Dengan ciri khas Roedjito, sederhana, hitam putih, tanpa tahun, tanpa judul dan tanpa tanda tangan. Ia menerima penghargaan berupa Hadiah Seni Depdikbud (1975) dan Gatra Dja'far Bushiri (1996).