Rasuna Said, H. Rangkayo

Lahir di Meninjau, Sumatera Barat, 14 September 1910 dan meninggal di Jakarta 2 November 1965. Seorang tokoh pendidik dan pejuang. Pendidikan pertama diperolehnya dari Sekoah Desa Maninjau; memasuki Diniyah School di Padangpanjang. Meski masih berstatus pelajar, ia sudah dipercaya untuk mengajar kelas di bawahnya. Ketika gempa melanda kota Padang panjang, tahun 1926, gedung Madrasah Diniyah Putri rusak berat dan terpaksa ditutup, ia pindah ke Sekolah Thawalib yang diselesaikannya dalam waktu 2 tahun. Menjadi sekretaris pada perkumpulan Sarekat Rakyat yang kemudian berubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Keluar dari PSII, dipercaya menjadi anggota pengurus besar "Persatuan Muslimin Indonesia" (PMI) atau Permi. Ia keras menentang Belanda dan menuduh Belanda memeras keringat rakyat, merampas kekayaan bangsa untuk kekayaan mereka sendiri tanpa memikirkan kesengsaraan rakyat. Akibatnya, penguasa Belanda meningkatkan pengawasan pada tokoh pejuang wanita ini. Tahun 1932, dengan alasan mengganggu ketenteraman umum, ia ditangkap dan dimasukkan ke LP Bulu, Semarang selama 13 bulan.

Setelah bebas bergabung dengan Islamic College, salah satu akademi Islam yang didirikan para reformis Islam di Padang. Ia dipercaya memimpin majalah sekolah yang bernama Raya. Pindah ke Medan, memimpin sebuah mingguan bernama Menari Putri yang terkenal dengan semboyan "Ini dadaku, mana dadamu". Pada masa pendudukan Jepang, kembali ke Padang. Bersama Khatib Sulaiman mendirikan organisasi pemuda Sumatera Barat dengan nama Pemuda Nippon Raya yang bertujuan membina bibit-bibit pejuang kemerdekaan. Mereka aktif memperjuangkan dibentuknya barisan Pembela Tanah Air (peta). Sesudah kemerdekaaan, menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera yang mewakili daerah Sumatera Barat. Kemudian berturut-turut menjadi anggota KNIP, DPR-RIS, dan DPRS. Tahun 1959 diangkat menjadi anggota DPA. Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya dijadikan salah satu jalan protokol di daerah Kuningan Jakarta.