RAJA-RAJA PASAI, HIKAYAT

Karya sastra Melayu klasik yang mengandung unsur sejarah. Naskah tertua hikayat ini ditulis oleh juru tulis Sir Stamford Raffles di Betawi pada tahun 1814. Namun usia hikayat ini sendiri jauh lebih tua. Menurut Sir Richard Winstedt, hikayat ini pernah direka dan digali pada abad ke-14, tepatnya sebelum tahun 1511, saat jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Pendapat ini diperkuat oleh Roolvink yang menyatakan bahwa naskah Hikayat Raja-raja Pasai ini bertentangan dengan pendapat A. Teeuw yang menyatakan bahwa Hikayat Raja-raja Pasai berusia lebih muda daripada Sejarah Melayu. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa hikayat ini harus dibaca sebagai karya sastra meskipun isinya membahas peristiwa-peristiwa sejarah. Hal ini disebabkan karena peristiwa-peristiwa sejarah dalam buku ini berbaur dengan peristiwa-peristiwa mitos atau dongeng. Untuk membaca hikayat ini sebagai karya sejarah, diperlukan pembanding berupa naskah atau sumber-sumber lain.

Di dalam Hikayat Raja-raja Pasai ini diceritakan riwayat raja-raja Pasai dan Samudera, termasuk Malikul Saleh yang sebelum menganut agama Islam bernama Merah Silu Sultan Malikul Zahir, Sultan Malikul Mahmud di Pasai, dan Sultan Malikul Mansur. Lama-kelamaan Kerajaan Samudera dan Pasai berkembang menjadi ramai dan termasyhur hingga raja Siam berusaha menaklukkannya. Namun berkat keberanian rakyat serangan itu dapat dipatahkan. Hikayat ini diakhiri dengan kisah penyerangan Majapahit atas Samudera dan Pasai serta kerajaan-kerajaan lain di Sumatera. Majapahit berhasil dalam serangan ini, namun gagal menguasai Minangkabau dan tentaranya terusir dari sana. Dalam hikayat ini terdapat pula daftar kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan Majapahit.