RADIO REPUBLIK INDONESIA

Disingkat RRI, didirikan 11 September 1945 di Jakarta, sebagai hasil rapat para pejuang Indonesia di kalangan pegawai radio pemerintah pendudukan Jepang di Jawa (Jawa Hoso Kanrikyoku). Tujuannya ialah mendirikan organisasi siaran radio untuk membantu perjuangan Republik Indonesia yang baru diproklamasikan. Pada hari itu pula lahirlah semboyan RRI yang tetap berlaku hingga sekarang : "Sekali di udara tetap di udara".

Organisasi RRI waktu itu berjalan sesuai dengan roda pemerintahan republik yang serba darurat. Meski sudah ada RRI, belum ada ketegasan apakah RRI masuk jawatan pos (PTT) atau Kementerian Penerangan (Kempen). Bagian teknik RRI Bandung misalnya, masuk PTT, sedangkan urusan siaran masuk Jawatan Penerangan. Di Sumatera, ada yang di bawah Penerangan Gubernur Militer. Pada masa itu pengisi acara hiburan tidak dibayar, dan pegawai bekerja bukan karena mengharapkan gaji. Demikianlah, masing-masing daerah berjalan sesuai kebijakan masing-masing.

Untuk menertibkan organisasi, pada 12 Januari 1946 diadakan konferensi radio yang pertama di Surakarta, di bawah pimpinan Abdulrachman Saleh. Konferensi ini menghasilkan keputusan bahwa RRI dijadikan jawatan pemerintah. Pada konferensi kedua, 23-24 Januari, diputuskan bahwa pusat jawatan berkedudukan di Surakarta. Dengan keputusan Kempen, 26 Februari, Maladi diangkat sebagai kepala jawatan RRI. Dalam pertemuan antara menteri penerangan dan menteri perhubungan di Surakarta, 1 Maret disetujui bahwa seluruh RRI dimasukkan ke dalam Kementerian Penerangan, sedangkan urusan teknik diatur bersama antara RRI dan PTT. Tanggal 1 April, RRI diresmikan sebagai Jawatan Radio dalam Kementerian Penerangan.

Dalam perkembangannya RRI juga berjasa memperkaya pertumbuhan musik Indonesia, antara lain dengan menyelenggarakan pemilihan penyanyi terbaik seluruh Indonesia sejak tahun 1951 dalam acara Bintang Radio. Tahun 1974, acara ini dikembangkan menjadi pemilihan Bintang Radio dan Televisi. Sejak 11 September 1983, RRI meningkatkan jangka waktu siarannya jadi 24 jam sehari melalui 34 studionya. Untuk mempercepat penyampaian berita dan komunikasi umumnya, dipasang sistem faksimili antara Subdirektorat Pemberitaan RRI di Jakarta dan studio RRI di Jayapura, Medan, Ujung Pandang, dan Surabaya. Tahun 1984, RRI mendapat penghargaan dari The Population Institute (Lembaga Kependudukan Dunia) yang berpusat di Washington, D.C., untuk siaran sandiwara radio bersambung Butir-butir Pasir di Laut yang bertemakan keluarga berencana. Sandiwara itu dinilai sebagai sandiwara radio terbaik se-Asia. Tanggal 20 Juli 1985, empat dari delapan lantai gedung RRI Jakarta di Jalan Merdeka Barat terbakar dan sejumlah arsip rekaman penting ikut musnah. Tetapi 30 menit kemudian siaran dapat mengudara lagi.