Queen Of The East

Disebut juga "Koningen van Oosten". Sebutan untuk Batavia sebagai kota yang mengalami kejayaan dan keindahan. Sebutan tersebut selain karena keindahan alamnya, juga berdasarkan pada kemewahan dan kemegahan pemukiman swasta besar yang ada di Batavia. Setelah Batavia dapat dikuasai oleh JP Coen tanggal 30 Mei 1619, kota Batavia dijadikan pusat pemerintahan VOC di Hindia Belanda. Dari markas besarnya di Batavia itu VOC mengatur lalu lintas niaga dalam jaringan perdagangannya yang tersebar di Teluk Persia, India, Srilangka, Bangladesh, Jepang dan Hindia Belanda. Pembangunan kota dilaksanakan seperti sebuah kota di negeri Belanda, karena ia ingin menjadikan kota tersebut sebagai kota VOC yang cemerlang bagaikan "Mutiara di Timur".

Loji yang lama diganti dengan sebuah benteng persegi empat, yakni Kasteel Batavia, dengan empat buah bastion dikelilingi oleh parit. Orang-orang Belanda hidup di dalam kota berbenteng tersebut. Kasteel Batavia merupakan Kota Batavia kuno, yang menyerupai Kota Amsterdam abad ke-17 di negeri Belanda. Di sepanjang tembok kota serta tepian terusan atau kanaal-kanaal kota, ditanami deretan pohon palem dan kenari yang rindang. Jalan raya di kedua tepian Kali Besar ditanami pepohonan teduh teratur rapi. Di dalam kota banyak sekali kanaal atau parit besarnya. Wilayahnya terpisah-pisah oleh kanaal-kanaal atau saluran air, dengan perahu atau sampan yang berkeliaran. Untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terpisah itu dibangun jembatan-jembatan kayu, berfungsi sebagai jalan penghubung. Batavia merupakan pusat perdagangan yang ramai di seluruh Asia bagian timur dan selatan. Tata kota teratur rapi dengan gudang-gudang yang kokoh dengan tembok tebal, yang kian hari kian bertambah jumlahnya untuk menyimpan rempah-rempah dan barang dagangan VOC. Untuk mengeringkan daerah yang berawa-rawa, digalilah parit-parit yang besar-besar. Di tepian parit kemudian bermunculan rumah-rumah dan gedung-gedung yang dihuni oleh orang Kompeni.

Gambaran tentang keindahan dan kerapihan Kota Batavia dilukiskan oleh berbagai kalangan seniman diantaranya Johannes Rach. Bahkan para penulis-penulis Belanda memberikan berbagai sanjungan tentang Batavia sebagai "Kota Surga yang Abadi", bak istana dengan ruangan balairung di Nirwana. Para penulis Jerman, Perancis, dan Inggris juga turut memujinya, diantaranya Christopher Fricke (penulis Jerman) menyebutnya sebagai kota yang paling nikmat di seluruh Hindia. Tak terkecuali James Cook, penjelajah kesohor dari Inggris berdecak kagum saat singgah di Batavia (1770). Menurutnya Batavia benar-benar merupakan "The Pearl of the Orient, Mutiara dari Timur".

Meskipun Batavia merupakan kota yang indah dan teratur, kota itu dikelilingi tembok di sekitarnya, sehingga menjadikannya sebagai sebuah kota tertutup dengan bangunan yang serba seragam. Di balik sanjungan akan keindahannya, ternyata pembangunan kota tidak memperhitungkan iklim tropis, sehingga membawa bencana bagi penduduknya. Kemudian karena semakin lama ternyata parit yang digali itu tak mampu lagi menampung luapan air dari rawa-rawa, sehingga penuh oleh endapan lumpur, mampet dan berbau busuk, banyak menimbulkan sumber berbagai macam penyakit seperti malaria tropikana, pes, dan kolera. Berbagai penyakit itu terus mengganas dan merenggut banyak jiwa, terutama orang Belanda. Untuk menghindari wabah epidemi, maka banyak penduduk yang pindah ke selatan, Weltevreden, daerah yang lebih tinggi. Dengan demikian julukan Ratu Timur tersebut kemudian berubah serta merosot sehingga muncul sebutan kuburan Timur (Graf de Hollanders). Kondisi lingkungan yang buruk, sehingga menimbulkan banyak penyakit yang membawa kematian bagi penduduknya.

Perkembangan di Weltevreden semakin membaik. Boleh dikata bahwa kondisi pada masa itu sangat tertata rapi, baik pemerintahan maupun penataan kotanya. Limpahan air hujan dapat teratasi dengan baik, oleh karena adanya pengaturan saluran air, sehingga tidak terjadi banjir. Begitupun kebersihan sangat diperhatikan dan dipatuhi penduduk. Dengan penuh kesadaran tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Pasar-pasar juga teratur rapi, tidak ada sampah yang menumpuk, demikian juga jalan-jalan tiap pagi dan  sore selalu dibersihkan dan di siram oleh petugas. 

Pada abad ke-19 Batavia  besar dari para pendatang Eropa.  Serdadu dan pedagang yang datang jauh berbeda dari pendatang sebelumnya di abad ke-17. Mereka lebih santun dan terhormat daripada serdadu dan petani yang didatangkan JP Coen sebelumnya. Selanjutnya kemakmuran yang telah dicapai Batavia awal  abad ke-20, ternyata mampu me-ngembalikan reputasinya sebagai  Ratu dari Timur yang pernah  disandangnya pada abad ke-18.