PUSAT PRIMATA SCHMUTZER

Terletak di Taman Margasatwa Ragunan di Jakarta Selatan merupakan pusat primata terbesar di dunia, diresmikan Gubernur Sutiyoso pada 20 Agustus 2002. Dari luas 13 hektar yang direncanakan, sudah dimanfaatkan 6,2 hektar. Sebagai bandingan, pusat primata yang ada di Leipzig, Jerman, luasnya 4,5 hektar. Pusat primata ini tidak hanya mengoleksi hewan primata, tetapi juga berfungsi sebagai pusat pendidikan dan konservasi lingkungan hidup. Di situ terdapat empat gorila jantan yang baru didatangkan dari Kebun Binatang Howlettes dan Port Lympne, Inggris.

Pusat primata itu dibangun dengan konsep kandang terbuka berdasarkan surat wasiat almarhum Ny Schmutzer selaku penyandang dana utama dengan persetujuan Gubernur DKI Jakarta, dibantu dana tambahan dari Gibbon Foundation, yayasan di Eropa untuk perlindungan satwa langka di Indonesia. Tempat ini merupakan sumbangan Ny. Pauline (Puck) Schmutzer (alm), perempuan keturunan Belanda yang lahir di Wonorejo. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai pelukis yang sangat mencintai satwa. Kecintaannya kepada satwa tersebut diwujudkan dengan mewariskan semua harta kekayaannya bagi kepentingan lingkungan hidup. Ketika meninggal dunia, ia mewariskan hartanya untuk pembangunan pusat primata, dibantu dana dari Gibbon Foundation, yayasan di Eropa untuk perlindungan satwa langka dan dilindungi di Indonesia.

Pusat primata yang menempati areal seluas 13 hektar dilengkapi museum, teater yang menyajikan film lingkungan hidup, taman patung, dan dilengkapi dengan 68 kamera pemantau untuk melindungi satwa dari tangan jahil para pengunjung. Pengunjung dapat pula menyaksikan kehidupan para gorila dari terowongan terbuka yang menghubungkan gedung berkubah dengan kompleks pusat primata itu. Bahkan, pengunjung dapat menikmati makanan di restoran di tempat itu sambil mengamati perilaku para primata, terutama gorila.