PUSAT KEBUDAYAAN TIONGHOA GALANGAN VOC, SITUS INGATAN TRAGEDI MEI 1998

Pusat Kebudayaan Tionghoa Galangan VOC
Alamat Jl. Kakap No. 1-3, Penjaringan, Jakarta Utara
Luas 2.000 m2
Latitude Longitude -6.1286,106.809

 

Pusat Kebudayaan Tionghoa, Galangan VOC merupakan salah satu Situs Pendukung Ingatan Tragedi Mei 1998. Galangan VOC yang berada di Jl. Kakap No. 1-3, Penjaringan, Jakarta Utara memiliki luas sekitar 2.000 m2. Bangunan ini didirikan pada tahun 1628, pada saat itu bangunan ini digunakan sebagai kantor pusat kegiatan perusahaan dagang Hindia Belanda, VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). VOC menjadikan tempat ini sebagai galangan kapal-kapal kecil dengan pekerja orang-orang pribumi. Selain membuat kapal kecil, bangunan ini juga menjadi tempat perbaikan atau dok bagi kapal-kapal besar yang mengangkut rempah-rempah.

Gedung Galangan VOC ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dua bangunan lainnya, yakni Museum Bahari (dulu gudang rempah-rempah) dan Menara Syahbandar (dulu berfungsi sebagai navigasi kapal-kapal di Pelabuhan Sunda Kelapa). Di kawasan ini dulu juga ada pasar ikan yang menjadi pusat perdagangan utama di Asia. Bahkan ada yang menyebutkan hampir selama dua abad, wilayah ini merupakan urat nadi suatu jaringan niaga yang terbentang dari Pulau Decima di Nagasaki (Japan) sampai Cape Town (Afrika Selatan) dan dari Ternate sampai Bandar Surat di pantai Teluk Arab.

Galangan Kapal VOC merupakan salah satu unsur pendukung yang amat penting bagi jaringan niaga sedunia, yang berlangsung dengan memakai kapal-kapal layar. Kapal-kapal berukuran besar dan kecil ini bongkar muat di Galangan VOC. Dan berlayar mengarungi lautan Pasifik, Hindia serta Atlantik dan singgah di berbagai pelabuhan, antara lain juga Amsterdam dan Nagasaki, antara Hormuz (Pesia) dan Pulau Banda.

Galangan kapal VOC ini merupakan tempat untuk memperbaiki kapal-kapal besar yang berbulan-bulan lamanya berlayar, tetapi juga untuk membuat kapal-kapal kecil. Berbagai golongan bekerja di galangan ini, seperti pegawai administrasi dan pembukuan, serta pembuat peta, kompas dan jam pasir menjadi bagian yang menyemarakkan, yang juga berasal dari para pekerja pribumi, meski sang tuan tetaplah meneer Belanda.

Mereka bekerja dan sebagian tinggal di gedung utama bersama dengan pejabat tertinggi di kompleks galangan itu, yakni equipagemeester atau commandeur. Lalu ada tukang kayu yang khusus membuat dan memperbaiki kapal serta tukang-tukang lain, diantaranya para budak belian. Mereka dipaksa bekerja keras, diberi makanan jelek, dianiaya dan dihukum berat karena kesalahan atau masalah sepele.

Gedung galangan kapal yang berlantai dua itu kini tak lebih dari sebuah tempat bersejarah dan bangunan tua. Untuk melestarikan gedung bersejarah ini, pada Januari 1998 Ny. Susilowati sebagai pemilik baru memugarnya untuk kafe, restoran, gallery dan ruang serbaguna. Pemugaran selesai pada tahun 1999. Perbaikan dilakukan pada tempat yang rusak saja dan mempertahankan bahan bangunan asli, seperti tiang kayu penyangga di tengah ruangan lantai dasar dan lantai kedua yang merupakan elemen khas pada bangunan tua ini. Ditemukan juga pada bangunan tua lain, seperti gudang di kompleks Museum Bahari. Jendela jeruji pada dinding Gedung Utara juga ditemui pada bangunan tua lain. Daun jendelanya dilengkapi engsel dan gerendel yang terbuat dari besi tuang dengan kualitas yang baik. Sebuah kusen pintu yang mewah dengan cornie (hiasan berupa profil mendatar di atas pintu) dan ukiran bunga dengan empat kelopak di dalam suatu lingkaran. Kondisi kayu pada atap pun masih baik dan kokoh sesudah berumur dua ratus tahun lebih. Pada salah satu balok kayu atap Gedung Utara terdapat guratan bertuliskan angka 1628.

Perbaikan yang dilakukan mencakup pembuatan pondasi dan kolom baru dari beton bertulang sebagai pengganti pondasi batu bata dan tiang kayu jati yang tidak bisa dipertahankan lagi. Sebagian besar lantai papan Gedung Utara dilepas supaya dapat diperbaiki satu per satu. Balok-balok penyangga lantai yang agak keropos diperbaiki dengan memakai kayu jati baru. Tekanan air dari bawah ke dalam dinding diatasi dengan sistem kedap air (waterproofing) yang dikenal sebagai 'dinding pemutus'. Genteng masih dalam keadaan baik, maka dibersihkan saja dengan sikat kawat dan dipasang kembali. Pada genteng bangunan masih tercetak nama pabriknya seperti Tan Liok Tiauw-Batavia, Lie Koen Tjeng-Tangerang danSteen-bakkerij-Tangerang. Papan anak tangga Gedung Utara sebagian sudah tidak utuh. Handrail (susuran tangga) sudah tidak ada, hanya tinggal balok di sisi kiri dan kanan tangga (trapboom/slingpeace) yang diperbaiki dengan menggunakan kayu jati dan dilengkapi dengan handrail. Ruang tempat sebuah tangga asli yang menuju loteng (dulu mungkin dipakai sebagai gudang), sekarang telah berubah menjadi restoran.

Restoran ini bernama Galangan VOC Resto & Cafe, namun VOC disini bukan singkatan dari Vereenigde Oost Indische Compagnie melainkan Very Old Cafe. Restoran ini buka dari jam 10 pagi sampai dengan jam 5 sore untuk makanan khas Indonesia, dan untuk makanan chinese.