Pu-du

Pesta orang Tionghoa pada pertengahan bulan ke-7. Pesta ini disebut juga Yu-lan-pen atau Avalambana. Orang asal Fujian, lebih mengenal dengan sebutan pu-du atau "Penyeberangan Besar". Valentjin, menyaksikan perayaan ini di Batavia pada awal abad ke-19. Tujuan semula pesta ini untuk menentramkan arwah-arwah yang masih berkeliaran karena tidak dimakamkan atau tidak mempunyai keturunan. Tradisi Buddhis yang masih dilakukan oleh para rahib dalam upacara ini mencakup banyak sesajian. Biasanya makanan disediakan di atas panggung-panggung. Para pengemis, yang dianggap sebagai pengganti arwah-arwah yang mengembara, datang dan mengambil sesajian itu pada akhir upacara sehingga sering disebut juga rebutan atau tjioko. Sekarang rebutan ini kadang-kadang diganti dengan pembagian yang lebih teratur.