Prapatan, Jalan

Dibangun untuk menghubungkan Pasar Senen di timur dan Tanah Abang di barat (1735). Setelah dikeluarkannya UU de Wall, jalan ini menjadi pemukiman elite para pemilik perusahaan swasta. Juga menjadi bagian dari persimpangan antara Jl. Kebon Sirih, selatan Jl. Ridwan Rais, dan Jl. Menteng Raya.

Dari Jl. Prapatan arus lalu lintas terdiri dari 3 macam yaitu, Pertama: kendaraan yang menuju ke Kramat Bunder, Kedua: kendaraan yang membelok ke Jl. Kramat Raya, dan ketiga kendaraan yang membelok ke Jl. Senen Raya. Dari Jl. Prapatan ini kendaraan tidak diperbolehkan masuk ke Jl. Pasar Senen. Bagi yang hendak berjalan ke Pasar Senen terlebih dahulu memasuki Jl. Senen Raya. Seluruh jenis kendaraan dapat memasuki jalan-jalan yang dituju baik kendaraan umum, penumpang maupun kendaraan-kendaraan pribadi dari roda dua, empat, enam dan seterusnya.

Kendaraan dari Jl. Prapatan yang akan menuju ke Kramat Bunder dan sekitarnya dapat langsung lurus masuk Jl. Kramat Bunder. Bagi kendaraan yang akan menuju Lapangan Banteng, Pejambon, Pasar Senen dan sekitarnya dari Jl. Prapatan dapat langsung membelok ke kiri masuk Jl. Pasar Senen. Sedangkan kendaraan-kendaraan yang akan menuju Kramat Raya dan seterusnya maka dari Jl. Prapatan harus membelok ke kanan memasuki Jl. Kramat Raya.

Pada zaman Hindia Belanda, di Jembatan Prapatan melintas S. Ciliwung yang berkelok ke Weltevreden dan Noordwijk. Dari jembatan terlihat di sebelah kiri berdiri rumah mewah orang Eropa, dan di kanan membentang Kampung Kwitang. Di tengah jembatan Prapatan dan Jl. Senen terdapat rumah kepala dinas kesehatan. Pada tahun 1960-an Woodbury & Page pernah mengambil obyek Jembatan Prapatan untuk karya fotonya.