POLITIEKE INLICHTINGEN DIENST

Disingkat PID, polisi rahasia yang tugasnya memata-matai kaum pergerakan nasional pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Segala informasi dari PID tentang kondisi pergerakan nasional di Indonesia nantinya dijadikan dasar pemerintah kolonial untuk mengambil tindakan terhadap kaum pergerakan nasional. Beberapa tugas PID, antara lain: memeriksa kaum pergerakan nasional yang baru pulang dari luar negeri, menyita majalah-majalah yang dianggap mengganggu ketertiban umum, menangkap tokoh-tokoh pergerakan nasional bila pemerintah kolonial telah membuat surat perintah penangkapan, menginterupsi tokoh-tokoh pergerakan yang menyampaikan pidato mereka pada rapat akbar partai dan dianggap mengganggu ketertiban umum, serta membubarkan rapat partai bila polisi Pill menilai kalau rapat partai tersebut akan menimbulkan gangguan bagi ketertiban umum.

Salah satu peristiwa menarik yang berkaitan dengan PID adalah peristiwa pidato Soekarno pada rapat umum Partai Nasional Indonesia (PNI) pada akhir tahun 1928. Pidato Soekarno dengan teori-teori muluk yang disampaikan secara sederhana dengan permainan kata dan secara bersemangat terkadang menimbulkan ketegangan di antara para hadirin dalam rapat. Itulah sebabnya PID selalu menjaganya dengan ketat. Ketegangansudah mulai tampak sejak Soekarno dan pemimpin-pemimpin lainnya memasuki ruangan rapat. Semua yang hadir serentak bertepuk tangan dan bersorak-sorak menyambut pemimpin mereka, kecuali PID. Pada saat lagu kebangsaan didengungkan, semua hadirin berdiri kecuali PID yang tetap duduk dan tidak mau menghormati lagu kebangsaan tersebut. Pada saat Soekarno berpidato, polisi PID beberapa kali menegurnya, tetapi tiap teguran selalu disambut dengan prates oleh hadirin. Bila ketegangan antara PID dan anggota rapat memuncak, biasanya PID membubarkan rapat tersebut.

Hal ini berlaku pula pada rapat-rapat umum yang diselenggarakan oleh organisasi Sarekat Islam (SI), Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Indonesia (Partindo), dan organisasi-organisasi pergerakan yang bersikap radikal terhadap pemerintah Hindia Belanda. Itulah sebabnya kaum pergerakan nasional sangat membenci Pill. Pada masa pemerintah Jepang, banyak anggota polisi PID yang menjadi Kempetai.