PLAZA YOGYA KLENDER, SITUS INGATAN TRAGEDI MEI 1998

 

Plaza Yogya Klender
Lokasi Jalan I Gusti Ngurah Rai, Klender – Jakarta Timur

 

Plaza Yogya Klender atau ada yang menyebutnya sebagai Plaza Sentral/Toserba Yogya Central Plaza Klender/Yogya Departement Store Klender/Mal Yogya Klender/Mal Klender, merupakan salah satu lokasi sasaran perusakan, penjarahan dan pembakaran bangunan pusat perbelanjaan yang terjadi pada peristiwa Mei 1998. Perusakan, penjarahan dan pembakaran bangunan ini menimbulkan banyaknya jumlah korban jiwa yang meninggal dari mereka yang tinggal di sekitar wilayah ini, diantaranya berasal dari kelurahan Jatinegara Kaum. Kejadian ini juga menyisakan duka mendalam pada banyak keluarga korban dan seluruh bangsa Indonesia hingga saat ini. Dalam Peta Ingatan Tragedi Mei yang dibuat oleh Komnas Perempuan, Plaza Yogya Klender menjadi salah satu titik yang mewakili peristiwa Mei 1998.

 

Tabel Data Kerusakan Versi TGPF (Yusuf, 2008)

                                  

Wilayah Bangunan Kendaraan
Rusak Bakar Rusak Bakar
Jakarta Timur 16 14   37

Tabel Data Kerusakan dan Korban Versi Pemda DKI Jakarta (Yusuf, 2008)

Jenis korban/kerusakan Jumlah
Supermarket 40

Tabel Data Kerugian Bisnis Properti Akibat Kerusakan, Bisnis Indonesia 8 Juni 1998 (Yusuf, 2008)

Jenis Bangunan Jumlah Harga per m/unit Unit
Pusat Perbelanjaan 120.000 Milyar

US$ 12 (sewa)

US$ 10 (renovasi)

US $ 16,8 juta

US$ 25,2 juta

Tabel Data Kerusakan Versi Tabloid Berita Mingguan Adil (Yusuf, 2008)

Wilayah Material Jumlah
Jakarta Pasar Swalayan, Restoran, Hotel 4.204

 

 

Pada awalnya Plaza Yogya Klender dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang lengkap dengan hadirnya toko serba ada, bioskop, diskotik, restoran, tempat bermain anak yang cukup dikenal di kalangan warga Klender dan sekitarnya. Toko serba ada Yogya yang ada dalam plaza tersebut, merupakan salah satu dari Toserba Yogya milik Yogya Group. Sebuah grup perusahaan ritel di Indonesia dengan format supermarket dan departement store yang beroperasi di wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Jawa Tengah. Yogya Grup memulai usahanya dari sebuah toko sederhana yang menjual bahan batik di kawasan Kosambi, Bandung.

Dari temuan Ester Indahyani Yusuf dan kawan-kawan (Yusuf, 2008), dijelaskan bahwa kejadian pada tanggal 14 Mei 1998 di Plaza Yogya Klender itu dimulai pada pagi hari. Pada pukul 09.00 WIB, Yogya Plaza sempat buka namun kemudian ada instruksi untuk menutup plaza dan seluruh karyawan disuruh turun keluar gedung. Kemudian pukul 10.40 WIB, semakin banyak massa berkumpul di sekitar Yogya, diantaranya massa juga nampak kumpulan anak-anak sekolah yang dipulangkan lebih cepat. Bertepatan dengan jam keluar sekolah tersebut, sebagian besar dari anak-anak itu juga berkumpul di pusat pertokoan Yogya Klender yang sebelumnya memang sudah banyak massa berkumpul. Sekitar pukul 12.00 WIB, terjadi perkelahian pelajar di sekitar Jl. I Gusti Ngurah Rai, mereka saling melempar batu. Sekitar 30 orang pelajar masuk pemukiman namun diusir warga, karena warga takut dirugikan mereka. Kemudian mereka berlari ke arah Klender. Sampai di Stasiun Klender, di dekat persimpangan Yogya Plaza terlihat segerombolan massa berdiri disitu, kira-kira 20 orang. Ketika para pelajar itu melewati mereka, beberapa orang dari kelompok massa tersebut berteriak ”Serang, Serang!”. Mereka memiliki ciri: berbadan cukup tegap, atletis dan berambut cepak. Segera setelah komando itu, massa menyerang pelajar dengan menggunakan kayu, batu dan batangan besi. Pelajar yang diserang lari masuk ke arah Yogya Plaza. 

 

Tabel Peristiwa, Lokasi dan Ciri Pengajak/Pemimpin Perusakan dan Pembakaran (TRUK, 1998)

Peristiwa Lokasi Kejadian Ciri Pengajak/Pemimpin

Penjarahan dan pembakaran Yogya Plaza

Klender, Jakarta Timur

Pemimpin perusakan: Puluhan pemuda berseragam SLTA.

Pelaku pembakaran: Puluhan pemuda membawa jerigen, yang diturunkan dari truk Fuso warna merah dari arah Pondok Kopi. Diantara puluhan pemuda itu terlihat 4 orang berambut cepak, berjaket hitam dan mengaku mahasiswa.

 

Pada pukul 12.30 – 13.00 WIB, kira-kira 50 orang berlari sambil melempari toko-toko dan menuju Yogya Plaza, kerusuhan semakin besar. Kelompok ini tidak diketahui asalnya dan bukan dari kampung setempat. Tidak berapa lama kemudian massa mulai memasuki halaman plaza namun bisa dihalau. Karena bertambah banyak, pihak keamanan/satpam tidak dapat menahan lagi, sehingga mereka mulai memasuki gedung untuk menjarah. Kemudian semakin banyak massa ikut menjarah. Banyak orang terlihat mondar-mandir mengambil barang jarahan. Terlihat penjarah yang menggunakan taksi, bajaj dan kendaraan lainnya, mengangkut hasil jarahan. Selama penjarahan, pintu plaza terlihat telah dalam keadaaan terbuka. Selama penjarahan berlangsung, tidak terlihat petugas keamanan baik polisi maupun tentara di sekitar Plaza, kecuali satpam dekat Mc Donald, sebelum lokasi terbakar.

Sekitar 14.00 WIB di lantai dua Yogya Plaza terlihat titik api, yang berada dari baju yang dibakar oleh penjarah untuk menerangi gedung yang gelap karena listrik mati. Api bisa dipadamkan, namun ada lagi titik-titik api ditempat lainnya, sehingga akhirnya api membesar meskipun masih banyak massa di dalam gedung. Hawe Setiawan dalam bukunya juga menjelaskan bahwa pada pukul 14.00 WIB, pembakaran terjadi di Yogya Plaza (Setiawan, 1999). Baru kemudian setelah pukul 15.30 WIB, warga berusaha menyelamatkan mereka yang ada di dalam bangunan. Banyak orang terjebak di lantai dua dan berusaha keluar. Api sudah membesar dan asap menebal menghalangi pemandangan. Diluar bangunan terlihat banyak orang melambai tangan meminta tolong dari lantai 4 gedung. Warga mencoba membuat tali tambang dari kain iklan film di bioskop Yogya Plaza untuk diulurkan dengan bambu ke lantai 4. Pada pukul 15.30-17.30 WIB, banyak orang yang turun dari lantai 4 dengan menggunakan tambang tersebut. Dalam keadaan panik, banyak orang yang melompat ke bawah. Akibatnya banyak orang menjadi terluka (bocor kepala, tulang patah) dan meninggal dunia. Selama peristiwa tidak terlihat aparat keamanan berada di sekitar lokasi. Pada pukul 17.00 WIB Yogya Plaza semakin parah terbakar. Beberapa warga yang mencoba mencari keluarga yang mungkin berada di dalam gedung ditahan oleh beberapa orang dan melarang mereka masuk. Api mulai padam pada pukul 21.30 WIB setelah hujan turun. Baru keesokan harinya pada tanggal 15 Mei 1998 sekitar pukul 08.30 WIB orang-orang dari PMI tiba di lokasi untuk membantu evakuasi dan membawa mayat ke RS Cipto Mangunkusumo. Tanggal 16 Mei 1998, sekitar Yogya Plaza dijaga oleh satu mobil tentara berbaju loreng yang membawa senapan. Warga sekitar pada saat itu masih berusaha mencari keluarga menyaksikan peristiwa itu.

 

Tabel Jumlah Korban Versi Pemda DKI Jakarta (Yusuf, 2008)

Jenis Korban/Kerusakan Jumlah
Korban Jiwa 288

Tabel Jumlah Korban Versi TRUK ( Yusuf, 2008)

Lokasi Korban Jiwa Jumlah
Yogya Departement Store 288

Tabel Korban Jiwa dan Luka-Luka Versi Tabloid Adil (Yusuf, 2008)

Wilayah Lokasi Jumlah
Jakarta Yogya Departement Store 288

 

Data mengenai korban jiwa di Plaza Yogya Klender ini sebenarnya berbeda-beda. Di salah satu artikel milik media Tempo Interaktif disebutkan bahwa jumlahnya mencapai hampir 200 jiwa yang menjadi korban, dari merdeka.com menyebut angka 400 jiwa yang menjadi korban, dari itoday.co.id menyebut angka 400 jiwa hingga 900 jiwa yang menjadi korban. Dari media Kompas versi cetak, terdapat data yang menyebut ada 30 jiwa korban yang tewas setelah melompat di Plaza Yogya Klender ini untuk berusaha menyelamatkan diri. Beberapa korban yang masih dapat teridentifikasi dikembalikan kepada keluarga dan kemudian dimakamkan. Taman pemakaman umum yang kemudian menjadi tempat para korban dimakamkan diantaranya TPU Penggilingan, Pondok Kelapa, Cipinang Muara, Kampung Jati dan Tanah Koja.

Dari kejadian ini, para keluarga korban peristiwa Mei 1998 membuat sebuah paguyuban korban dan keluarga korban Mei yang dibentuk pada tahun 1999. Paguyuban ini selain mencoba saling memulihkan luka oleh lara dan trauma akan peristiwa Mei 1998 antar sesama anggotanya, juga menyelenggarakan kegiatan positif seperti membentuk koperasi, pengajian dan beasiswa. Paguyuban ini bernama Forum Komunikasi Keluarga Mei (FKKM) 1998. Diantara anggota keluarga korban juga ikut melakukan ‘Kamisan’ di depan Istana Presiden, yaitu sebuah aksi berdiri atau diam, sesekali membacakan tuntutan atau puisi di depan Istana Presiden. Mereka memilih  warna hitam dalam setiap aksi yang digelar, hitam merupakan simbol keteguhan dan semangat perjuangan melawan ketidakadilan. Aksi ini dilakukan pada hari Kamis, dimana hari “Kamis” adalah hari di mana peserta rapat bisa meluangkan waktu. Waktu ditentukan pukul 16.00-17.00 (tepat) adalah saat lalu lintas di depan Istana Presiden ramai oleh kendaraan pulang bekerja.

Bersamaan dengan berlalunya waktu, di masyarakat juga tumbuh urban legend berkaitan dengan lokasi Plaza Yogya Klender ini yang memakan banyak korban jiwa. Diantaranya cerita tentang penumpang angkot yang wajahnya terbakar, cerita tentang uang yang berubah menjadi daun yang dibayarkan oleh penumpang yang menuju ke Plaza Yogya Klender, arwah korban yang memberi petunjuk pada keluarganya, satpam/sales promotion girl hantu, hingga cerita pembeli nasi goreng tanpa kaki yang tubuhnya terbakar.

Pada tahun 2007, setelah mengalami perbaikan baik fisik bangunan, Plaza Yogya Klender ini kemudian berganti nama menjadi Mal Citra Klender. Walaupun sebagian besar bangunan telah dibangun kembali, namun di salah satu sudut pertokoan masih dapat terlihat sisa kejadian Mei 1998.

Pusat perbelanjaan ini dikemudian hari juga menginspirasi insan film Indonesia untuk membuat sebuah film bergenre horor berjudul Mal Klender. Film produksi Hitmaker Studio ini, ditulis oleh Riheam Juniati, disutradarai oleh David Poernomo dan Agusti Tanjung, serta diproduseri oleh Rocky dan Ram Soraya. Film Mal Klender ini dibintangi oleh Shandy Aulia, Denny Sumargo, Tasya Kamila dan Igor Saykoji. Film ini berkisah tentang seorang gadis yang mempunyai indera keenam, bersama sahabatnya mencoba menguji diri mereka dengan mengurung diri mereka di sebuah mal yang dikatakan angker.